Pengembangan Teknologi Greenhouse Butuh Perhatian Pemerintah

Ponco Pracoyo saat memelihara tanaman melon yang ditanam dengan menggunakan teknologi green house, belum lama ini. - Harian Jogja/David Kurniawan
17 Mei 2019 14:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Inovasi di bidang pertanian terus berkembang dan sudah masuk ke wilayah Gunungkidul. Salah satunya inovasi green house untuk tanaman hortikultura mulai dari buah-buahan hingga sayur-mayur.

Meski demikian, inovasi ini membutuhkan biaya yang mahal karena biaya pembuatannya mencapai puluhan juta rupiah. Namun dari sisi manfaat sangat besar karena upaya penanaman bisa dilakukan sepanjang tahun dan tidak terganggu musim.

Salah seorang petani di Desa Kalitekuk, Kecamatan Semin, Ponco Pracoyo, mengatakan pengembangan green house di Kalitekuk sudah berlangsung sejak 2018. Dengan sistem pertanian ini hasil pertanian lebih optimal karena tanaman tidak mudah terserang hama dan penanaman bisa dilakukan kapan saja. “Saya menanam melon dan setahun bisa menanam hingga empat kali,” kata Ponco kepada Harian Jogja, Jumat (17/5/2019).

Dia menjelaskan teknologi green house yang diterapkan tidak berbeda dengan program serupa di daerah lain, yakni area penanaman dibuat rumah dan seluruh area tertutup dengan memanfaatkan plastik dengan ketebalan tertentu. Untuk media penamanan menggunakan polybag sehingga lebih irit lahan.

Meski memiliki banyak keunggulan, Ponco mengakui bahwa penerapan teknologi ini tidak murah. Untuk membangun fasilitas green house membutuhkan biaya hingga puluhan juta rupiah. “Total biaya mencapai Rp30 juta lebih,” tuturnya.

Dia merasa beruntung karena ada kerja sama dengan perusahaan yang bergerak di bidang pertanian sehingga biaya yang dikeluarkan bisa ditekan. Selain itu, di dalam kerja sama ini perusahaan juga menyediakan bibit hingga pupuk untuk pemeliharaan. “Modelnya bagi hasil dan panen yang diperoleh dijual ke perusahaan,” katanya.

Menurut dia teknologi green house sangat bagus untuk dikembangkan di Gunungkidul. Namun dalam prosesnya harus ada partisipasi dari pemerintah karena pembangunan butuh biaya yang sangat besar. “Kalau hasil jelas lebih terjamin karena serangan hama bisa ditekan dan penanaman bisa kapan saja. Tapi untuk pembuatan, kalau petani kecil kesulitan sehingga butuh bantuan dari pemerintah,” katanya.

Warga Kalitekuk lainnya, Sunardi, mengakui tertarik dengan penerapan teknologi green house. Sayangnya, ia tidak bisa membangun karena terkendala biaya. “Biaya pembuatan sangat mahal dan saya tidak bisa menjangkaunya. Kalau ada bantuan dari pemerintah, mungkin beda ceritanya,” katanya.