Komunitas Sanggarbambu: Menyalakan Seni hingga Enam Dasawarsa

Komunitas Sanggarbambu - Harian Jogja/Arief Junianto
18 Mei 2019 10:07 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Bertahan hingga 60 tahun jelas tak mudah bagi sebuah komunitas seni. Namun, Sanggarbambu, bisa melaluinya. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Arief Junianto.

Sanggarbambu, tulisan di selembar kayu yang tergantung di gerbang joglomenjadi penanda komunitas seni itu bermukim. Ruang di bagian dalam limasan berkayu kusam di Tempuran, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Bantul, tampak hidup bergeliat ketika Matahari mulai beranjak meninggi. Letaknya tak berada di tepi jalan.

Di tempat yang sangat sederhana itu, proses kreatif, semangat berkesenian tanpa memandang kotak genre terus bergeliat.  Di usia yang mencapai 60 tahun, orang-orang di dalamnya boleh menua, tetapi semangat berkesenian mereka seolah tak pernah terlihat redup.

“Mungkin karena itulah yang bikin kami terus hidup,” kata salah satu seniman Sanggarbambu, Untung Basuki, di rumahnya di kawasan Ngadisuryan, Kecamatan Kraton, Jogja, belum lama ini.

Untung bergabung dengan Sanggarbambu sekitar 10 tahun setelah komunitas itu berdiri. “Kalau tidak salah sekitar 1969.”

Di tahun-tahun itu, iklim politik di Indonesia yang labil turut berimbas ke segala aspek kehidupan, tak terkecuali kesenian. Di antara banyaknya komunitas seni yang hidup di Jogja ketika itu, nyaris semua berafiliasi ke partai politik tertentu.

Tetapi tidak dengan Sanggarbambu. Menurut Untung, banyak seniman yang berpolitik saat itu, tetapi ketika mereka masuk ke keluarga Sanggarbambu, label politik itu pun seolah hilang dengan sendirinya.

Seni adalah universal. Jargon ini sepertinya menjadi semangat hidup Sanggarbambu. Tak peduli ideologi politik apa oleh seniman, ketika sudah bicara soal Sanggarbambu, seniman tak lebih dari sekadar manusia yang mengabdikan dirinya untuk seni itu sendiri. “Ideologi politik mereka seperti lebur sendiri,” kata Untung.

Sejak awal, spirit dibentuknya Sanggarbambu memang murni sebagai wadah berkesenian. Pada 1 April 1959, tiga sesepuh seniman lintas genre, yakni Heru Sutopo, Kirdjomulyo serta perupa Sunarto Pr di kawasan sekitar Gajahan, Alun-Alun Selatan, Jogja berkumpul dan bercengkerama. “Ketika itu, Kirdjomulyo nyeletuk. To [Sunarto Pr] kowe ki kan pelukis, moso yo ga duwe sanggar [To, kamu itu kan pelukis, masa enggak punya sanggar],” kata Untung.

Dari celetukan itulah, Heru menyahut. Seniman yang melambung lewat film besutannya, Ponirah Terpidana (1983) itu ikut merespons dengan menawarkan lahan miliknya yang ada di kawasan Gendingan, Jogja, jika Sunarto benar-benar ingin mendirikan sanggar seni. “Dari situlah maka lahirlah Sanggarbambu. Sanggarnya ya ada di Gendingan itu,” kata Untung.

Sepakat dengan penuturan Untung, perupa gaek asal Purwokerto yang juga adik kandung dari Sunarto Pr, Supono pun menegaskan komitmen Sanggarbambu untuk menjadi rumah sekaligus “sekolah” bagi seniman, apapun genrenya.

“Tempat Pertemuan dan Medan Persahabatan. Itulah moto kami dari dulu hingga sekarang. Bagi kami, itu kalimat sakti yang mampu menyatukan kami semua, keluarga Sanggarbambu,” kata Supono di sebuah kedai kopi di Jalan Margo Utomo pekan lalu.

Bagi Supono, Sanggarbambu lebih cocok dibilang paguyuban ketimbang organisasi. Sepanjang 60 tahun berkegiatan bersama, nyaris tak ada satu pun orang yang menganjurkan agar Sanggarbambu tertib administrasi. Bagi mereka, AD/ART organisasi, berkas proposal, curriculum vitae, tak lebih dari sekadar tumpukan kertas yang cukup jadi pengisi map berkas. “Tak satu pun proposal yang kami bikin netes. Kami memang tak pandai bikin proposal. Kami memang tak pernah punya funding. Jangankan mikir cari uang dari komunitas ini, wong komunitas ini saja tak pernah punya uang,” kata dia.

Seniman Besar

Selain Kirdjomulyo yang pada dokumentasi HB Jassin tercatat sebagai sastrawan angkatan ‘66, nama-nama sastrawan besar macam WS Rendra, Putu Wijaya, hingga Danarto pernah menjadikan Sanggarbambu sebagai “sekolah” tempat mereka belajar.

“Bahkan pentas WS Rendra, Oedipus Sang Raja [Oedipus Rex], produksinya kami yang bikin. Itu jauh sebelum dia [Rendra] mendirikan Bengkel Teater,” kenang Supono.

Bahkan saat Putu Wijaya tampil di Tembi Rumah Budaya, Bantul, beberapa bulan lalu, satu per satu sesepuh Sanggarbambu disapa Putu tanpa alpa.

Sebagai seniman teater, Putu merasakan jatuh bangun bersama Sanggarbambu. Bersama Sanggarbambu pula, Putu mementaskan karyanya. Misalnya Bila Malam Bertambah Malam yang naik panggung sekitar 1970.

Tak hanya kenangan manis bersama para maestro, sebagai komunitas, perjalanan Sanggarbambu tak selalu mulus. Masa yang paling diingat Supono adalah era 1996. Setelah masa kontrak Sanggarbambu di Ngadisuryan habis, praktis mereka tak lagi punya tempat. “Tetapi tidak mati. Kami belum mati,” mendadak Supono menyahut.

Kendati tak punya basecamp, dia masih ingat betul para seniman Sanggarbambu masih sempat menggelar pameran bersama. “Setidaknya dua atau tiga kali pameran kalau tidak salah,” kata dia.

Sekitar 2009, sadar usia tak lagi muda, Sunarto Pr yang ketika itu masih dipercaya sebagai komandan Sanggarbambu, akhirnya menyerah. “Kakak saya merasa sudah waktunya ada regenerasi. Sudah waktunya ada tenaga yang lebih muda untuk membawa Sanggarbambu kembali berjaya,” ucap Supono.

Pilihan pun jatuh pada Totok Buchori, seorang perupa yang sebenarnya juga tak bisa dikatakan muda. Mendapatkan mandat dari sesepuhnya, Totok bergeming.

Meski sadar menghidupkan Sanggarbambu yang ketika itu bisa dibilang berada di titik nadir, jelas bukan hal yang mudah, tetapi dia tak tak mampu berkata tidak.

“Akhirnya, saya menghubungi kolega yang sudah kariernya sudah sukses. Saya bilang ingin menghidupkan kembali Sanggarbambu,” kata Totok yang juga hadir semeja bersama saya dan Supono ketika itu. 

Usahanya tak sia-sia. Loyalitas yang seolah tanpa batas membuat para seniman yang ia kontak, bersedia membantu. Alhasil, sebuah lahan di Tempuran, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan disewa dengan jangka waktu 10 tahun.

Kini, sanggar di Tempuran itu nyaris tak pernah sepi. Setiap akhir pekan, ada saja anak-anak muda yang sedang tergila-gila dengan kesenian datang ke sanggar.

Ranggalawe Makar

Tahun ini, tepat enam dasawarsa mereka berkesenian bersama, sebuah pentas besar tengah mereka siapkan sebagai penanda.

Ranggalawe Makar, sebuah pentas drama yang diadaptasi dari cerita bersambung (cerbung) karya penulis Joko Santosa dengan judul yang sama. Pentas drama itu rencananya akan digelar di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (18/5/2019) malam ini.

Sanggarbambu menyiapkan lima sutradara sekaligus untuk menggarap naskah yang ditulis oleh akademikus sastra Aprianus Salam dan seniman teater Indra Tranggono.

Kelima sutradara itu, yakni Jujuk Prabowo, Untung Basuki, Lita Pauh, Luwi Darto, dan Fajar Suharno, didapuk menampilkan Ranggalawe Makar dalam lima setting panggung yang berbeda.

Kelima setting itu, kata Totok, menggambarkan lima interpretasi yang berbeda atas kisah Ranggalawe. Masing-masing adalah Zaman Old, Zaman Now, Monolog, Narasi, dan Dialog Metafisis. “Kelima fragmen itu seolah tampil sendiri-sendiri, tetapi sebenarnya mereka itu satu kesatuan,” kata Totok.

Bagi “pemilik” Ranggalawe Makar, Joko Santosa, pementasan itu juga tak kalah spesial. Jelas sebuah kehormatan yang luar biasa ketika komunitas macam Sanggarbambu memproduksi pementasan yang diadaptasi dari karyanya. “Sanggarbambu jelas bukan komunitas seni sembarangan. Saya pastinya sangat bangga, Ranggalawe Makar bisa digarap oleh Sanggarbambu,” kata dia.

Sebagai penulis novel yang berasal dari generasi yang jauh lebih muda, dia hanya bisa berharap Sanggarbambu bisa tetap hidup, menemukan regenerasinya, dan terus berkesenian. “Menjaga komunitas seni untuk bisa tetap hidup bukan hal yang mudah. Apalagi sampai 60 tahun lamanya,” katanya.