Kemenag Ajak Umat Terus Bersatu dan Menjaga Kedamaian

Peringatan Hari Kebangakitan Bangsa dan Nuzulul Quran yang digelar di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Senin (20/5/2019) petang. - Harian Jogja/David Kurniawan
21 Mei 2019 15:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kepala Kantor Kementerian Agama Gunungkidul, Aidi Johansyah, mengajak masyarakat untuk menjaga ukuwah serta persatuan dan kesatuan antarumat beragama agar kondisi di masyarakat tetap aman dan damai. Hal ini disampaikan saat perayaan Hari Kebangkitan Nasional serta memperingati malam Nuzulul Quran di Bangsal Sewokoprojo, Selasa (20/5/2019) petang.

Menurut dia, di dalam peringatan ini terdapat momen penting untuk terus merekatkan tali persaudaraan baik antar umat Islam maupun dengan umat beragama lainnya. Terlebih saat Pemilu 2019 adanya polarisasi dalam dukungan sehingga jangan sampai hal ini menjadi faktor pemecah persatuan bangsa. “Suasaa yang damai harus terus dijaga. Jangan sampai karena pemilu masyarakat jadi terpecah belah. Dengan momen ini mari rekatkan tali persaudaraan,” kata Aidi kepada wartawan.

Dia menjelaskan peringatan Nuzulul Quran mengambil tema Kebersamaan dalam Keberagaman. Hal ini sejalan dengan semangat Hari Kebangitan Nasional yang terus berupaya mempersatukan bangsa di tengah-tengah banyaknya perbedaan suku, ras hingga agama. “Mari dalam malam penuh anugerah ini kita tingkatkan iman dan takwa. Jadi membangun kebersamaan adalah salah satu hikmah dari Nuzulul Quran,” katanya.

Seruan untuk penjaga persatuan dan kesatuan juga disuarakan oleh Bupati Gunungkidul, Badingah. Menurut dia, perbedaan pandangan politik adalah hal yang biasa. Namun jangan sampai hal ini dijadikan suatu alat untuk memecah belah dalam kehidupan di masyarakat.

Badingah menilai pelaksanaan pemilu sudah berjalan dengan aman dan damai sehingga suasana ini harus dijaga. “Semua warga harus miliki sikap dewasa dan tidak mudah terpancing isu-isu yang berkembang di masyarakat,” katanya.

Badingah menjelaskan perbedaan di masyarakat tidak hanya masalah politik, karena di saat bersamaan ada tantangan lain untuk menjaga kerukunan umat beragama. Sebagai bangsa yang majemuk, perbedaan merupakan hal yang biasa karena Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras dan agama. “Seperti lidi kalau hanya satu sangat mudah dipatahkan, tapi kalau lidi-lidi diikat menjadi satu maka akan kuat dan dapat memberikan manfaat. Jadi, mari jaga persatuan dan kesatuan di tengah-tengah adanya perbedaan di masyarakat,” katanya.