Tambahan Kuota Haji Diprioritaskan untuk Lansia dan Pendamping

Ibadah haji. - REUTERS/Ammar Awad
24 Mei 2019 15:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kuota jemaah calon haji asal Gunungkidul bertambah dari 209 orang menjadi 244 jemaah. Tambahan ini dialokasikan untuk calon haji lanjut usia dan pendamping.

Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Gunungkidul, Muhammad Yusuf, mengatakan tambahan kuota sebanyak 10.000 berdampak terhadap kuota jemaah di Gunungkidul. Sebelum adanya penambahan, kuota hanya untuk 209 jemaah, tetapi setelah ada tambahan jumlahnya bertambah menjadi 244 calon haji. “Kuota tambahan sudah diberikan, termasuk calon jemaah yang akan diberangkatkan,” kata Yusuf kepada wartawan, Jumat (24/5/2019).

Dia menjelaskan, sesuai dengan jatah alokasi dari Kemenag, kuota tambahan difokuskan untuk calon jemaah yang telah lanjut usia serta jemaah pendamping calon haji yang telah lanjut usia. “Calon haji yang telah tua diprioritaskan, tapi saat ibadah berlangsung harus ada yang mendampingi sehingga kuota tambahan juga diberikan kepada jemaah pendamping,” katanya.

Yusuf mengungkapkan, dengan adanya tambahan ini maka keberangkatan jemaah akan terbagi dalam dua kloter. Untuk calon jemaah yang berasal dari kuota normal akan berangkat terlebih dahulu, dan untuk kuota tambahan masuk kloter akhir.

Menurut dia, keberangkatan rencananya dilakukan pada pertengahan Juli 2019. Untuk persiapan, Kemenag Gunungkidul mulai bersiap mulai manasik di tingkat kabupaten dan tingkat kecamatan. Selain itu, calon jemaah rencananya juga menjalani pemeriksaan kesehatan dan proses karantina sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci. “Persiapan terus kami lakukan dan mudah-mudahan semua berjalan lancar,” katanya.

Kepala Kemenang Gunungkidul, Aidi Johansyah, menyatakan jajarannya terus mempersiapkan penyelenggaraan haji. Meski pemberangkatan masih lama, persiapan terus dilakukan agar pelaksanaan berjalan dengan baik.

Aidi berharap kepada calon jemaah mulai mempersiapkan karena kondisi di Arab Saudi berbeda dengan di Gunungkidul. Untuk itu, kondisi kesehatan dan fisik harus dijaga agar dapat menjalankan ibadah dari awal hingga akhir. “Kesehatan harus benar-benar dijaga karena ini penting pada saat ibadah berlangsung,” katanya.