Advertisement
Siswa Dibebaskan Pilih Bacaan Kesukaan
Penyerahan poster literasi hasil karya siswa SMA Negeri 1 Kasihan, Bantul kepada tim pengabdian kepada masyarakat UMY, belum lama ini. - Istimewa/UMY
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL—Peningkatan minat baca masyarakat terus digenjot oleh berbagai pihak, salah satunya melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dicanangkan oleh pemerintah. Melalui program itu, guru dan siswa diimbau untuk membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai.
Atas dasar itulah tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang terdiri dari dosen Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) melaksanakan kegiatan membaca di SMA Negeri 1 Kasihan, Bantul selama Februari hingga April 2019.
Advertisement
Ketua tim pengabdian kepada masyarakat UMY, Lanoke Intan Paradita mengatakan tujuan kegiatan itu adalah untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih banyak pada siswa. “Guna memperkuat pelaksanaan GLS, melalui pengabdian masyarakat ini kami melaksanakan kegiatan membaca di SMAN 1 Kasihan,” ucap dia melalui rilis yang diterima Harianjogja.com, Minggu (26/5/2019).
Pada program yang didanai oleh Lembaga Penelitian, Publikasi, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UMY tersebut, tim yang juga didukung oleh bbeberapa mahasiswa PBI UMY itu merancang kegiatan lanjutan membaca (post-reading activities) yang bertujuan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih banyak pada siswa.
BACA JUGA
“Selain merancang kegiatan pascabaca, kami juga memperkenalkan siswa dengan graded readers atau bacaan berjenjang berbahasa Inggris. Buku-buku ini dirancang khusus untuk belajar Bahasa Inggris karena bacaan berjenjang memiliki tingkat kesulitan kosakata yang berjenjang, sehingga siswa dapat memilih buku yang sesuai untuk dibaca,” ucap dia.
Dia mengatakan siswa diperbolehkan untuk memilih buku bacaan yang ingin dibaca. Siswa tidak dipaksa untuk membaca buku yang tidak disukainya, bahkan siswa juga boleh mengganti buku yang sedang dibaca dengan buku lain yang menurutnya lebih menarik atau lebih mudah untuk dipahami. “Buku-buku yang dibaca juga bukan buku pelajaran, melainkan buku-buku cerita dengan genre yang beragam. Membaca karya-karya fiksi merupakan salah satu cara untuk menarik siswa menyukai membaca, karena tidak seperti teks akademis, karya fiksi banyak melibatkan dan mengeksplorasi emosi melalui alur cerita dan penokohan yang dapat membuat larut pembacanya,” ucap Lanoke.
Di akhir kegiatan, kata dia, tim mengajak para siswa untuk mengkampanyekan anti bullying dengan membuat poster berdasarkan cerita yang mereka baca.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement






