Cerita Dibalik Tradisi Nyekar saat Lebaran

Imah di lapak bunga taburnya yang terletak di perempatan Dongkelan, Rabu (5/6/2019).- Harian Jogja - Salsabila Annisa Azmi
05 Juni 2019 15:17 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Momen Lebaran di beberapa wilayah biasanya diikuti dengan tradisi nyekar atau berziarah ke makam anggota keluarga yang telah tiada. Tradisi nyekar dijadikan momen penyebaran budaya oleh Imah, 50, pemilik lapak kembang setaman di perempatan Jalan Dongkelan, Bantul.

Imah mulai membuka lapaknya setelah dia usai Salat Id di masjid Dongkelan, tepatnya pukul 06.30 WIB, Rabu (5/6/2019). Terpal biru masih menutupi warungnya namun puluhan pelanggan sudah mengantre panjang. "Saya enggak ada jeda dari pukul 06.30 WIB tadi, ini enggak akan habis pembelinya sampai nanti siang," kata Imah, sembari menyusun kembang setaman di dalam setangkup daun pisang, Rabu.

Ramainya antrean pembeli dimanfaatkan Imah untuk menyebarkan sejarah kumpulan lapak kembang dan makna kembang setaman. Kepada setiap pembeli dengan wajah baru, Imah menganggap mereka pemudik dari luar DIY. Imah juga bisa mengenali dari logat bicara mereka.

"Tiap ada yang datang saya beritahu bahwa kumpulan lapak kembang atau bunga tabur di sini sudah ada sejak 1980 an. Setelah itu saya kasih tau makna-makna bunganya, kenapa buat ziarah harus lengkap ada mawar, melati, kantil dan kenanga," kata Imah.

Kepada Harian Jogja Imah menjelaskan makna dari kembang setaman. Lebih tepatnya, setiap bunga memiliki pesan yang disampaikan. Bunga Kanthil berarti kesuksesan lahir batin akan didapatkan dengan memanjatkan doa dan menghayati nilai-nilai luhur yang diajarkan leluhur mereka.

Bunga Melati menyampaikan pesan ketulusan dalam melakukan segala hal, termasuk saat berziarah ke makam anggota keluarga yang telah tiada. Bunga Mawar menyampaikan pesan agar tidak merasa memiliki segalanya di dunia ini, artinya harus mengikhlaskan kepergian orang yang dicintai kembali di sisiNya. Bunga kenanga memiliki pesan agar mencontoh segala tingkah laku baik dari leluhur.

Penjelasan Imah tentang kembang setaman memang membuat antrean pembeli semakin mengular, akan tetapi Imah tidak waswas, justru itu yang menjadi daya tarik lapaknya. Bahkan jika hari biasa, lapaknya sering dikunjungi wisatawan mancanegara yang ingin mengenal budaya ziarah kubur di Jogja.

Lebaran kali ini lapaknya kebanjiran ratusan pembeli. Selain karena edukasi yang Imah berikan, harga bunga yang ditawarkan cukup murah. Mulai dari Rp7000 hingga Rp25000 tergantung ukuran wadahnya.