Derita Mahasiswa Jogja saat Burjo Banyak Tutup

Seorang warga melintas di depan burjo yang masih tutup di Pogung Lor, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Senin (17/6/2019). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
17 Juni 2019 19:47 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Kehadiran Burjo atau Warmindo bagi sejumlah mahasiswa atau pekerja di Jogja ternyata cukup vital. Warung Burjo alias bubur kacang ijo selama ini didominasi pekerja dari daerah Jawa Barat.

Saat ini banyak dari burjo atau warmindo tersebut tutup lantaran ditinggal mudik para pekerjanya yang biasa disapa "Aa' Burjo". Sebelumnya diberitakan, sebanyak 1.750 orang pengusaha warung burjo di DIY mudik pada akhir Mei lalu. Mereka mudik ke kampung halaman mereka di sejumlah daerah di Jawa Barat dengan menggunakan 36 unit bus.

Adapun, rombongan mudik bareng ini dilepas oleh Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X dari halaman Stadion Mandala Krida.

Momen seremonial pelepasan mudik bareng pengusaha burjo ini juga diabadikan oleh akun Twitter Humas Pemda DIY.

Mahasiswa S2 asal Jakarta di salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di Kabupaten Sleman, Wahyu Suyarna, 27, mengatakan jika kehadiran burjo cukup vital dalam kehidupannya di DIY untuk menempuh pendidikan S2-nya.

Wahyu melanjutkan, kehadiran burjo penting karena dalam satu hari minimal ia makan di burjo itu satu atau bahkan dua kali. "Minimal saya makan di Burjo dalam satu hari," kata Wahyu kepada Harianjogja.com, Senin (17/6/2019).

Dia mengatakan, ketika burjo di sekitar kosnya masih tutup otomatis pengeluaran jadi lebih besar karena perbandingan makan di burjo dengan warung makan lainnya apalagi yang dijual secara online jauh lebih mahal.

Wahyu berpendapat, burjo juga merupakan tempat berinteraksi sosial. Bisa menjadi tempat berinteraksi penghuni indekos satu dengan penghuni indekos lainnya, mahasiswa dari kampus yang berbeda, dan warga setempat," ungkapnya.

Pekerja di salah satu Bank berpelat merah, Danis Setiawan, 26, mengatakan jika burjo juga merupakan tempat yang cukup vital baginya yang juga sebagai penghuni indekos di wilayah Pogung Lor, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman.

Danis mengatakan jika burjo mempunyai banyak pilihan rasa makanan. "Burjo juga jadi tempat one stop buat urusan perut," kata Danis yang memang cukup banyak menghabiskan waktu di jalanan sebagai Account Officer.

Dia mengatakan, alasan lain ia mengandalkan burjo adalah karena harganya yang tidak terlalu mahal.

Tak hanya itu, Danis berpendapat jika burjo juga bisa menjadi tempat rehat sewaktu-waktu. "Di burjo saya merasa ramai dan bisa melakukan hal lain selain makan, misal main hp sambil hanya meminum segelas kopi, merencanakan hari ini mau ngapain aja, tempat ngumpul bertemu teman," paparnya.

Danis menuturkan, jika burjo juga bisa menjadi tempat untuk merenung ketika hati tengah gundah gulana.