BPPTKG: Erupsi Merapi Bersifat Lelehan, Warga Dilarang Masuk Radius 3 Km dari Puncak

Visual puncak Gunung Merapi dari pos Pengamatan Gunung Merapi di Selo, Boyolali, Minggu (3/3) pagi. - Twitter/BPPTKG DIY
20 Juni 2019 12:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Gunung Merapi kembali mengeluarkan wedhus gembel atau awan panas pada Kamis (20/6/2019) pagi. Jarak luncurnya mencapai 1,2 kilometer ke arah hulu Kali Gendol.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan guguran awan panas tersebut terjadi pukul 09.17 WIB. Awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo 75 mm dan durasi 120 detik. "Jarak luncur 1200 meter ke arah hulu Kali Gendol," katanya, Kamis (20/6/2019).

Sebelumnya, Merapi juga mengeluarkan guguran awan panas pada Senin (17/6) lalu pukul 17.33 WIB. Awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo 55 mm dan durasi 105 detik. Jarak luncur 1000 m ke arah hulu Kali Gendol. Artinya ini kejadian awan panas kedua kalinya terjadi dalam empat hari terakhir. 

Saat ini, kata Hanik, luncurkan awan panas masih berada pada jarak aman yang ditetapkan BPPTKG Jogja sejauh 3 kilometer atau rata-rata luncuran masih 1 kilometer dari puncak.

"Kalaupun skenario terburuknya jika terjadi erupsi besar saat ini, dengan volume kubah lava yang saat ini mencapai 457.000 meter kubik, maka lontaran awan panas paling jauh sekitar 3,2 kilometer," kata Hanik.

Meski begitu, letusan besar ini masih kecil kemungkinannya terjadi. Berdasarkan historical Merapi, erupsi yang terjadi akan bersifat efusif atau lelehan. Hingga kini BPPTKG belum mengubah rekomendasi jarak aman di mana radius 3 kilometer dari puncak harus bersih dari aktivitas warga.

"Meskipun erupsi dengan sifat lelehan lava pijar masih terjadi, tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Fenomena itu bahkan bisa menjadi objek wisata," katany