Jogja Dingin, BMKG Jelaskan 3 Faktor Penyebabnya

Warga menutup sinar matahari yang menyinari muka saat matahari bersinar terik di musim kemarau. - Harian Jogja/Nina Atmasari
21 Juni 2019 17:27 WIB Yogi Anugrah Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Dalam beberapa hari terakhir ini, suhu di wilayah DIY lebih dingin dari biasanya. BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta menjelaskan ada tiga faktor penyebab hal tersebut.

Kepala Unit Analisa dan Prakiraan Cuaca BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Sigit Hadi Prakosa mengatakan, faktor pertama, pada musim kemarau didominasi oleh langit cerah dan tidak ada tutupan awan, kondisi ini mengakibatkan pelepasan radiasi panas dari bumi ke atamosfer pada malam hari terjadi tanpa halangan.

“Sehingga mengakibatkan suhu udara di permukaan bumi cepat mendingin,” kata dia kepada Harianjogja.com, Jumat (21/6/2019).

Yang kedua, kata dia, pada Juni, Australia mengalami musim dingin. Embusan angin dari Australia ke Asia yang melewati Jawa berpengaruh terhadap penurunan suhu udara. Selanjutnya, pada Juni posisi matahari dalam gerak semu tahunan berada hampir di garis balik utara atau 23.5 LU. Ini berdampak pada menurunnya intensitas radiasi matahari yang diterima wilayah Indonesia bagian selatan.

“Interaksi ketiga faktor inilah yang menyebabkan suhu yang kita rasakan dalam beberapa hari ini terasa dingin,” ucap dia.

Ia menjelaskan, dalam beberapa hari ini, BMKG mencatat suhu minimum yang pernah terjadi berada di angka 19 derajat celcius yang terjadi pada 17 Juni lalu.

“Diperkirakan kondisi suhu dingin akan berlangsung hingga Agustus mendatang, oleh karenanya, masyarakat diimbau untuk mewaspadai beberapa potensi penyakit,” ucap dia.