Ini Potensi Angkutan Menuju Yogyakarta International Airport Menurut Ahli Transportasi

Suasana terminal keberangkatan dan kedatangan di Yogyakarta International Airport, Kecamatan Temon, Jumat (7/6/2019).-Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
26 Juni 2019 20:47 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Akademisi menilai, masih ada sejumlah potensi angkutan pendukung akses ke Yogyakarta International Airport (YIA) yang belum dioptimalkan.

Guru Besar Transportasi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) , Prof. A. Munawar menyatakan, YIA sudah mulai beroperasi, secara bertahap diharapkan secara berangsur-angsur akan semakin banyak penerbangan dari bandara tersebut. Akan tetapi, masalah aksesibilitas masih menjadi kendala.

"Sebenarnya, yang sangat diperlukan bukanlah jalan tol, akan tetapi angkutan umum yang reliable alias dapat diandalkan dan murah," ujarnya, Rabu (26/6/2019).

Ia mencontohkan, di beberapa negara Asia, misalnya bandara Narita yang jauh dari pusat Tokyo. Kemudian, bandara Incheon yang jauh dari Seoul, demikian pula bandara International Hongkong juga jauh dari pusat kota.

Kendati demikian, akses dari bandara-bandara tersebut dapat ditempuh dengan bus Limousine berkualitas tinggi dengan harga relatif murah. Langsung ke titik-titik pusat kota, dengan titik henti di hotel-hotel pusat kota. Kereta api juga langsung dari bandara ke pusat kota. Bahkan dari Stasiun Kowloon dapat check in, sehingga penumpang dapat naik kereta api langsung ke Bandara Internasional Hongkong tanpa membawa bagasi.

"Akses angkutan umum yang disediakan menuju YIA masih sangat kurang, dibandingkan bandara-bandara Internasional di negara-negara Asia lainnya tersebut," kata dia.

Munawar menyebut, kereta api harus turun di Wojo atau Wates, kemudian berganti dengan naik bus. Bus yang disediakan oleh Damri hanya bus pemandu moda, point to point yang sangat terbatas titik pemberangkatan penumpangnya.

Dalam pandangannya, sebenarnya ada alternatif lain yang dapat dikembangkan, tetapi terkendala birokrasi. Bus-bus berkualitas tinggi sebenarnya dapat disediakan oleh perusahaan-perusahaan bus swasta di DIY, dengan titik-titik henti di hotel-hotel.

Misalnya saja dari hotel-hotel daerah Monjali menuju ke YIA. Dari jalan Adisucipto – jalan Solo ke YIA dan masih banyak rute-rute potensian yang dapat dikembangkan. Kemungkinan besar, hotel-hotel yang menjadi titik-titik henti akan bersedia memberi dukungan finansial bagi beroperasinya bus-bus tersebut.

Akan tetapi, hanya BUMN atau BUMD seperti DAMRI yang dapat ditunjuk untuk pengoperasian trayek tersebut. Bus swasta tidak diperkenankan.

Selain itu, saat ini ada bus-bus Damri dengan ukuran bus besar yang beroperasi keliling ring road. Hanya saja tingkat isian bus-bus tersebut sangat kecil, hanya sekitar 20 %. Diperkirakan, jika trayek tersebut dipindahkan rutenya menuju YIA, dengan titik-titik henti hotel-hotel di sekitar Ring Road dan beberapa pusat kegiatan, tentu akan sangat bermanfaat dan titik isian akan menjadi tinggi.

"Akan tetapi lagi-lagi terkendala birokrasi, SK trayek bus DAMRI sudah ditentukan dan sulit untuk dirubah. Jika kendala birokrasi tersebut tidak dapat didobrak, akses ke YIA tetap buruk, dikhawatirkan YIA akan bernasib sama seperti Bandara Kertajati, sepi," tuturnya.

Sementara itu, Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Fajar Saumatmadji mengatakan, perihal optimalisasi angkutan umum menuju YIA, sementara ini, angkutan umum bisa dikoneksikan untuk terintegrasi. Antara angkutan yang sekarang melayani dalam Kota Jogja dan yang melayani rute ke bandara. Selain jumlah armada yang sesuai, penjadwalan, sistem tiket juga semestinya terintegrasi pula.

"Tetapi saat ini kita [Daerah Istimewa Yogyakarta] masih ada pekerjaan rumah terkait angkutan umum di perkotaan," kata dia.

Sebenernya kalau berbicara perihal angkutan umum, tidak bisa hanya bicara kendaraan saja, tapi juga sarana prasarana pendukung. Mengingat, orang yang mau menggunakan angkutan umum adalah para pejalan kaki.

Sekarang ini, jalur pejalan kaki menuju halte masih kurang. Idealnya, para pejalan kaki juga difasilitasi. Agar pengguna angkutan umum dimudahkan dan terjamin keselamatannya ketika turun dari angkutan.