Mengarungi Zaman Melalui Internet

Ilustrasi internet - Bisnis.com
27 Juni 2019 09:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Heboh anak kecanduan gawai melanda Tanah Air hari-hari ini hingga sempat menjadi headline selama dua hari di sebuah koran nasional. Topik itu menambah kekhawatiran orang tua terhadap paparan informasi yang bisa diperoleh anaknya dari Internet.

Psikolog Olifant School, Mariani Sutanto mengatakan Internet merupakan bentuk kemajuan zaman yang tidak dapat ditolak tetapi dapat disiasati agar dapat mengarunginya. Zaman boleh maju, semaju-majunya, tetapi manusia lah yang tetap memegang kendalinya.

Di zaman ini peran orang tua dan keluarga semakin vital. Sebab anak tak serta merta dapat memakai Internet. “Di masa-masa krusial ini peran orang tua menjadi signifikan dalam menata langkah kehidupan anak-anaknya,” ucap Mariani, melalui siaran pers, Rabu (26/6).

Menurutnya, salah satu anak tangga untuk memperlengkapi anak menapaki kehidupannya adalah pendidikan. Di zaman kiwari ini, pendidikan di sekolah tidak lagi semata-mata dilakukan dengan metode pembelajaran satu arah. Dengan melimpah ruahnya informasi yang ada, maka akses menuju informasi itu bisa dilakukan dari berbagai arah, salah satunya adalah memakai Internet sebagai salah satu sarana pembelajaran. “Di tengah kontroversi dampak negatif penggunaan Internet, pendidikan harus berani melawan arus pendapat mayoritas dengan memakai internet sebagai kendaraan untuk mengarungi zaman digital,” katanya.

Tantangan yang dihadapi adalah menyiapkan mental anak. Di sinilah pendidikan di rumah dan pendidikan di sekolah berkelindan. Sekolah memperlengkapi anak didiknya bukan hanya dari segi akademik, tetapi juga dengan keterampilan hidup (lifeskills). Melalui peraduan keduanya, anak menjadi terampil membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang penting dan mana yang kurang penting serta memiliki pikiran yang tajam dan kritis terhadap segala sesuatu.

Pertemuan orang tua dan guru saat awal semester bukan lagi semata-mata membicarakan tentang nilai, tetapi mengenai cara mendampingi anak memakai keterampilan hidupnya secara maksimal. Selain itu sekolah juga dapat membekali anak didiknya dengan Internet BAIK (bertanggung jawab, aman, inspiratif, kreatif), sehingga anak punya rambu-rambu saat berselancar dan terselamatkan dari pengaruh buruk internet. Melalui sinergi ini, orang tua juga mau tak mau harus terus memperbarui pengetahuannya dan membantu anak dalam literasi digital mereka. Dengan cara ini Internet mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya. 

Sarana Komunikasi

Selain untuk mengakses berbagai informasi, kehadiran Internet kemudian memunculkan media sosial amat berguna sebagai sarana komunikasi. Dengan keterbatasan waktu, sekolah sebagai satuan pendidikan dapat mengefisienkan waktu bertemu orangtua melalui grup-grup orang tua di masing-masing kelas. Bahkan komunikasi yang terjadi dapat meningkatkan keakraban antar orangtua, sekalipun tak tertutup kemungkinan adanya gesekan antar orang tua karena percakapan di grup.

Selain sebagai sarana komunikasi, sekolah  dapat memanfaatkan aplikasi Internet untuk memudahkan komunikasi tiga arah yaitu guru, anak, orang tua. Dalam aplikasi ini juga ada fasilitas pengerjaan pekerjaan rumah berbatas waktu, menulis agenda kerja di kolom-kolom yang telah tersedia, memberi jalan kepada orangtua yang ingin tahu hasil belajar anaknya dan ruang berbagi pendapat secara virtual. Di aplikasi Schoology ini orang tua, guru dan siswa berada bersama dalam ruang yang disediakan oleh adminnya. “Jadi, tanpa mencereweti anaknya, orang tua tahu kalau hari ini ada pekerjaan rumah berdasarkan input di aplikasi tersebut,” kata dia.

Secara psikologis, kehadiran Internet dan gawai dapat membantu meringankan beban hati kaum muda. Sekarang zamannya bukan lagi person to person tetapi person-gadget-person. Jadi, melalui gawai anak-anak yang tak keluar keluhannya saat berhadapan langsung dengan orang tua atau gurunya, dapat berdiskusi melalui platform media sosial. Selain itu melalui swafoto, remaja yang tadinya tidak percaya diri, karena termotivasi oleh teman-temannya diam-diam juga belajar swafoto. Lama kelamaan kepercayaan dirinya tumbuh. “Tak semua orang kan percaya diri melihat wajahnya di layar gawai? Bukankah ini sebuah kemajuan besar?” ujarnya.

Di samping heboh pengaruh negatif Internet dan gawai pada anak-anak, ternyata ada pula pengaruh positifnya. Zaman yang sudah maju tetap dapat diarungi, sehingga generasi X dan Y dapat berenang-renang bersama generasi Z dan Alpha. Dengan tanpa mengabaikan ekses-ekses buruknya, kehadiran Internet membuat kita sebagai bangsa siap mengarungi zaman secara global bersama dengan bangsa- bangsa lain.