Dampingi Siswa Tuna Netra, Dosen PBI UMY Ajarkan Cara Belajar Bahasa Inggris Lewat Cerita

Dosen dan mahasiswa PBI UMY bersama siswa siswi dan guru SLB Negeri 1 Bantul berfoto bersama setelah Pendampingan Bahasa Inggris. - Ist/UMY.
27 Juni 2019 10:37 WIB Sunartono Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Dua dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PBI UMY) di 2019 kembali melakukan pendampingan Bahasa Inggris di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bantul. Pendampingan tersebut dilaksanakan pada April 2019.

Ketua Pelaksana Puthut Ardianto menjelaskan terkait latar belakang diselenggarakannya kegiatan tersebut. Distro Book yang dikembangan berisi tentang lima track cerita rakyat yang telah dialih bahasakan menjadi Bahasa Inggris. Kemudian direkam menjadi audio file yang siap untuk diputar oleh para siswa berkebutuhan khusus, terutama bagi siswa yang tuna netra. Hal ini tercetus lantaran fakta di lapangan yang menyebutkan bahwa pihak sekolah biasanya mengubah bahan ajar ke dalam tulisan Braille.

“Sehingga kegiatan tersebut memakan cukup banyak kertas. Sebagai contoh, soal ujian biasanya bisa menjadi berpuluh-puluh lembar karena diubah ke huruf Braille,” jelas Puthut dalam rilisnya Kamis (27/6/2019).

Ia menambahkan bahwa dengan adanya Distro Book di SLB Negeri 1 Bantul dapat membuat kegiatan belajar mengajar menjadi lebih efektif dan efisien. “Dengan menggunakan metode ­Experience, Explore, Enjoy para siswa diajak mengalami pembelajaran Bahasa Inggris yang menyenangkan. Setelah mengalami, siswa bisa mengeksplorasi sekaligus mendengarkan cerita-cerita yang lainnya, agar mereka dapat sampai di tahapan menikmati cerita,” lanjutnya.

Ia dibantu oleh enam mahasiswa jurusan PBI UMY dan salah satu dosen dari PBI UMY Maryam Sorohiti. Pendampingan dilakukan selama dua kali di SLB Negeri 1 Bantul. “Kegiatan dilaksanakan pada bulan April 2019 tanggal 9 dan 12, selama dua kali melaksanakan pendampingan antusias siswa dalam belajar cukup tinggi. Hal tersebut dapat terjadi karena materi yang diberikan berupa audio yang ada bagian suara-suara nyanyian, sehingga membuat siswa tertarik,” jelasnya.

“Pihak SLB menyambut cukup baik dengan adanya program ini, karena bisa membantu siswa-siswi berkebutuhan khusus untuk tetap mendapat kesempatan yang sama kaitannya dalam belajar Bahasa Inggris,” katanya.