Mahasiswa Politeknik LPP Jogja Ciptakan Alat Ukur Karet Kering Ramah Lingkungan

Tim PKM Politeknik LPP Jogja menunjukkan Alat Ukur Karet Kering Ramah Lingkungan hasil inovasi mereka, di kampus setempat, Kamis (4/7/2019). - ist/dok.tim PKM LPP Jogja
05 Juli 2019 19:57 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Mahasiswa Politeknik LPP Jogja mengembangkan alat ukur kadar karet kering (KKK), berbasis sensor photoelectric. Teknik penentuan KKK ini dinilai lebih ramah lingkungan.

Ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Achmad Safi’i mengatakan, alat yang mereka buat memiliki prinsip yang sederhana, yaitu memanfaatkan reflektivitas dari lateks terhadap gelombang cahaya. Secara konsep, gelombang cahaya dipancarkan ke permukaan lateks.

"Pantulan gelombang cahaya dari lateks ini akan diterima oleh sensor photoelectric, diperkuat dengan modul penguat. Sehingga dihasilkan beda tegangan yang diterima oleh sensor photoelectric, lalu diterjemahkan menjadi nilai KKK oleh microprocessor," jelasnya, Kamis (4/7/2019).

Menurut dia, lewat inovasi yang mereka buat itu, dapat membantu mengurangi dampak limbah bahan kimia dari proses produksi RSS. Selain itu dapat memberikan keakuratan dan waktu yang cepat dalam penentuan nilai KKK, tambah Achmad.

Anggota Tim, Dwi Indah Pratiwi menjelaskan, karet alam sebagai salah satu komoditas utama di Indonesia, merupakan komponen industri hilir yang tidak tergantikan oleh karet sintetis. Salah satu produk karet alam yang menjadi unggulan dan dikelola oleh perusahaan perkebunan negara di Indonesia adalah Ribbed Smoked Sheet (RSS). Sampai saat ini, proses produksi RSS masih menjadi perhatian khusus, karena pada saat penentuan KKK membutuhkan bahan kimia asam formiat.

"Buangan bahan kimia ke lingkungan dapat mencemari dan menimbulkan efek negatif terhadap lingkungan, serta mempengaruhi kesehatan masyarakat," ujarnya.

Kendala lain yang menjadi latar belakang dibuatnya inovasi mereka yaitu, dalam menentukan nilai KKK dengan analisa laboratorium sesuai standar memerlukan waktu 12 jam. Namun kenyataannya, perkebunan besar menentukan KKK tidak sesuai standar dan hanya berdasarkan selisih berat kering karet yang diperoleh secara manual. Sehingga memberikan hasil yang kurang akurat. Padahal, penentuan nilai KKK pada pengolahan RSS akan menentukan jumlah kebutuhan air yang dipakai pada tahapan proses selanjutnya.

Sementara itu, anggota lain dari tim, M. Wildan Al Hanif menuturkan, alat yang mereka buat dapat menjadi pengganti penentuan nilai KKK secara konvensional, tentunya dengan pengembangan dan penyempurnaan yang harus dilakukan.

"Kami berharap teknologi alat ukur tersebut dapat diaplikasikan di industri-industri karet di Indonesia. Sehingga diperoleh peningkatan produktivitas yang berujung pada peningkatan perekonomian Indonesia," paparnya.

Dosen Pembimbing M. Mustangin menyatakan, penelitian tepat guna seperti ini sangat diperlukan untuk mendukung industri perkebunan, yang merupakan salah satu sektor yang strategis bagi Indonesia. Selain itu juga menjadi ajang pengembangan kreativitas dan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa.

"Politeknik LPP mendorong dan dukungan mahasiswa untuk mengembangkan ide inovasi yang mereka miliki," ucapnya.