Hasto Wardoyo Mundur, Ketua DPRD Kulonprogo Menangis

Komposisi pejabat daerah Kulonprogo sepeninggal Hasto Wardoyo, mantan Bupati Kulonprogo yang kini menjadi Kepala BKKB Pusat, Senin (8/7/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
08 Juli 2019 22:57 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONOPROGO - Momen emosional mewarnai rapat paripurna pengunduran diri Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, di gedung DPRD Kulonprogo, Kecamatan Pengasih, Senin (8/7/2019). Ketua Dewan, Akhid Nuryati, yang bertugas membacakan laporan pengunduran diri tersebut menangis di hadapan peserta rapat. 

Air mata perempuan yang biasa disapa Thiwuk itu keluar sesaat setelah memulai membacakan pengumuman pengunduran diri Hasto. Sejumlah peserta rapur yang menyaksikan momen tersebut juga tampak meneteskan air mata. Peristiwa ini membuat proses rapur yang berlangsung kurang dari satu jam itu sempat terhenti beberapa saat.

Seusai pelaksanaan rapur, Akhid mengungkapkan alasan dirinya menangis. Dia mengaku berat menerima kenyataan Hasto sudah tidak menjabat sebagai Bupati Kulonprogo. Sejumlah hal yang dilakukan Hasto selama memimpin daerah sangat membekas di benak Akhid. 

Dalam perjalanan mengelola pemerintahan antara ekseskutif dan legislatif, Thiwuk menilai Hasto sangat baik. Mampu menjaga silaturahmi dan koordinasinya dengan DPRD sangat baik. Wajar jika dirinya tak bisa menahan tangis.

“Barangkali bukan saya sendiri [yang menangis]. Hanya karena yang terucap dan terekspresi hari ini [kemarin] saya sebagai orang yang harus mengumumkan,” ucap perempuan kelahiran Kulonprogo, 18 April 1969 tersebut, kemarin.

Meski berat menerima kenyataan itu, Akhid mengaku rela dan legowo dengan hengkangnya Hasto. Apalagi, Hasto pergi karena mengemban tugas lebih tinggi, yakni menjadi Kepala Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Perasaan haru juga diungkapkan Wakil Bupati, Sutedjo, yang turut hadir dalam rapur tersebut. Dia bahkan mengumpamakan rasanya ditinggal Hasto sudah seperti suami yang bercerai dengan istrinya. “Mudah-mudahan ini hanya pisah ranjang saja lah,” katanya sembari tertawa.

Sutedjo menilai Hasto sebagai sosok yang baik sehingga dirinya merasa cocok dan kompak. Tak ada sekat antar keduanya mengingat pasangan ini telah bersama memimpin Kulonprogo sejak 2011. Kedekatan inilah yang membuatnya berat melepas Hasto.

Terkait dengan hasil rapur, Akhid menyatakan seluruh anggota Dewan yang hadir yakni sebanyak 36 orang menyetujui pengunduran Hasto. Selanjutnya legislatif akan mengusulkan hasil tersebut kepada Kementerian Dalam Negeri melalui Gubernur DIY untuk disahkan agar mendapat Surat Keputusan (SK) pemberhentian Hasto.

Nantinya setelah SK terbit, akan dilanjutkan dengan pelaksanaan rapur Pengusulan Pengangkatan dan Pengesahan Wakil Bupati menjadi Bupati. Kemudian, Dewan akan mulai mempersiapkan pengisian jabatan wabup.

Akhid berharap partai pengusung atau gabungan partai pengusung Hasto-Tedjo pada Pemilukada 2017 lalu bisa segera melakukan pertemuan guna mengerucut nama calon wabup untuk kemudian dipilih Dewan. Dia menyatakan, tidak ada syarat khusus yang diterapkan dalam proses pengisian Wabup ini. Teknisnya sama seperti  pencalonan reguler yang tertuang dalam UU Pilkada. Sifat pergantian ini juga sama seperti tahapan PAW.