Anggaran Pilur Serentak Gunungkidul 2027 Naik Jadi Rp4,6 Miliar, Ini Alasannya
Pilur serentak Gunungkidul 2027 direncanakan di 55 kalurahan dengan kebutuhan anggaran Rp4,6 miliar, naik dari Rp2,6 miliar pada 2025.
Salah seorang penderita gangguan jiwa di DIY yang hidup dalam pasungan./Harian Jogja-Uli Febriarni
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL,–Wacana bebas pasung di wilayah DIY sudah dideklarasikan 2014 lalu. Namun hingga sekarang di wilayah Gunungkidul belum bisa bebas dari pemasungan.
Dinas Sosial (Dinsos) Gunungkidul mencatat ada 42 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang menjalani hidup dalam pasungan. Padahal jika mengacu pada Peraturan Gubernur DIY No.81/2014 tentang Pedoman Penanggulangan Pemasungan, setiap orang yang mengalami gangguan kejiwaan harus menjalani pengobatan hingga sembuh tanpa harus dipasung.
Kepala Seksi Bina Rehabilitasi Sosial Dinsos Gunungkidul, Winarto, mengatakan di wilayah Gunungkidul belum bisa bebas dari pemasungan. Namun dari sisi jumlah, ia mengklaim setiap tahunnya terus berkurang. "Untuk saat ini masih ada 21 penderita gangguan jiwa yang dipasung. Untuk sebaran ada di wilayah Kecamatan Saptosari, Nglipar, Panggang, Playen, Rongkop, Karangmojo dan Patuk," kata Winarto kepada wartawan, Senin (8/7/2019).
Menurut dia, masih adanya ODGJ yang dipasung karena ketidaktahuan keluarga. Oleh karena itu Dinsos terus berusaha memberikan pemahaman kepada keluarga agar penderita dapat menjalani perawatan. Namun demikian, kata Winarto, upaya tersebut tidaklah mudah karena proses evakuasi korban ke rumah sakit untuk penyembuhan harus mengantre. "Persoalan ini menjadi masalah, tapi kami akan terus berusaha. Untuk tahun ini kami ditargetkan membebaskan empat ODGJ yang dipasung," katanya.
Dia menjelaskan, tindakan pemasungan oleh keluarga dilakukan dengan dalih agar penderita gangguan jiwa tidak membayakan jiwa orang lain dan merusak apa yang ada di sekitarnya. Namun demikian, kata Winarto, apapun alasnya pemasungan tidak dibenarkan karena secara klinis penderita dapat disembuhkan dengan rutin menjalani pengobatan. “Ini yang akan kami sosialisasikan ke warga bahwa ODGJ dapat disembuhkan dan dapat hidup normal asal mau melakukan pengobatan secara rutin,” tutur dia
Psikiater Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, Ida Rochmawati, menilai kasus pemasungan yang terjadi merupakan kasus lama yang diulang. Pada umumnya mereka pernah terakses layanan kesehatan jiwa namun tidak berlangsung secara berkelanjutan sehingga penyakit yang diderita kembali kambuh sehingga pihak keluarga memasung korban lagi. “Kesadaran masyarakat tentang kesehatan jiwa masih kurang. Jadi ini tantangan yang harus disosialisasikan sehingga kasus pemasungan dapat dihilangkan,” katanya.
Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kecamatan Saptosari, Sadilem, mengatakan jajarannya terus memantau ODGJ yang dipasung. Menurut dia, seringkali alasan malu mebuat keluarga menyembunyikan penderita yang hidup dalam pemasungan.
Menurut dia, TKSK Kecamatan Saptosari terus menyosialisasikan upaya penyembuhan ODGJ termasuk di dalamnya larangan pemasungan. "Kami datang ke Dinsos Gunungkidul menyatakan bahwa para penderita gangguan jiwa bisa diberi obat secara gratis," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur serentak Gunungkidul 2027 direncanakan di 55 kalurahan dengan kebutuhan anggaran Rp4,6 miliar, naik dari Rp2,6 miliar pada 2025.
Cek jadwal DAMRI dari Bandara YIA ke Jogja dan Sleman, lengkap dengan jam keberangkatan, lima pilihan tujuan, dan tarif Rp80.000.
Cek jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Rabu, 28 Oktober 2026. Tersedia 10 perjalanan dari Stasiun Tugu dan Kutoarjo.
Cek jadwal KA Bandara YIA 28 Oktober 2026 untuk layanan reguler dan Xpress, lengkap dengan waktu keberangkatan dari Jogja dan bandara.
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 28 Oktober 2026 dari Stasiun Palur, lengkap dengan waktu keberangkatan di 13 stasiun pemberhentian.
Cek jadwal KRL Jogja-Solo, 15 waktu keberangkatan dari Jogja ke Palur, daftar stasiun pemberhentian, dan tarif tiket Rp8.000.