Gaungnya Masih Kurang, DIY Ditantang Kembangkan Pusat Industri Kreatif

Para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memamerkan produk mereka dalam acara Workshop dan Temu Bisnis Nasional UMKM yang diselenggarakan di Hotel Tara, Jalan Magelang, Jogja, Selasa (30/10). Pengayaan pengetahuan bagi para pengusaha UMKM terutama dalam bidang industri kreatif ini berupaya menyinergikan kemitraan UMKM yang tangguh dan berdaya saing menuju era revolusi industri 4.0. - Harian Jogja/Desi Suryanto
10 Juli 2019 13:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Kementerian Perdagangan menantang Pemda DIY untuk segera membangun Jogja Creative Industry Center (CIC)  atau pusat pengembangan industri kreatif seperti yang ada di Bali. Sebab potensi ekonomi kreatif DIY cukup besar, namun gaungnya secara nasional masih kurang.

“Saya tantang CIC tidak hanya di Bali tapi di Jogja. Silahkan Pemda menyiapkan lahannya, kami akan membantu memfasilitasi melalui DAK [Dana Alokasi Khusus). Dua tahun lagi harus sudah terbangun,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, seusai membuka acara Creative Talk bagi pelaku start up dan pengusaha muda DIY di Sangkring Art Space Bantul, Selasa (9/7/2019).

Gati mengatakan DIY memiliki banyak potensi pengembangan industri kreatif, bahkan di DIY juga ada sekolah industri kulit, ada balai batik, dan balai kulit. Gati juga melihat sejumlah hasil kerajinan di Bali bahan bakunya berasal dari Jawa, salah satunya dari Kotagede. 

Selain itu DIY juga menjadi salah satu daerah penyumbang produk domestik bruto (PDB) ekonomi kreatif terbesar nasional, yakni mencapai 16,12% dari total 922,59 triliun berdasarkan survei khusus ekonomi kreatif pada 2016 lalu. survei dilakukan lima tahunan. Menurut Gati kontribusi terbesar ekonomi kreatif ada pada tiga sektor, yakni kuliner, fesyen dan kerajinan.

Sementara jumlah pengusaha muda berusia di bawah 30 tahun masih relatif rendah di Indonesia. Hanya sekitar 10,68% dari total pengusaha ekonomi kreatif sebanyak 8,2 juta orang. Sementara sisi lain 2030 mendatang Indonesia akan mengalami bonus demografi dimana penduduk usia produktif 20-39 tahun mencapai 88,064.800 jiwa. “Ini perlu dipersiapkan pengusaha-pengusaha muda yang nantinya akan bisa mengambil peluang,” kata Gati.

Gati juga menyoroti besarnya PDB ekonomi kreatif di DIY, namun gini rasionya atau ketimpangan masih cukup tinggi mencapai 0,42, lebih tinggi dari rata-rata nasional 0,3. Menurut dia, hal tersebut menjadi persoalan yang perlu diselesaikan, salah satunya dengan menciptakan lapangan pekerjaan dan membuat wirausaha-wirausaha baru.

Ia menyatakan Kemenperin saat ini juga tengah mempersiapkan pengusaha-pengusaha muda bidang ekonomi kreatif melalui Bali Center Industry Creative, salah satunya program Creative Business Incubator. Kegiatan tersebut diikuti 100 pengusaha muda dan pelaku industri kreatif muda di DIY dengan melibatkan Pemda DIY, Pemkab Bantul, praktisi ekonomi kreatif, dan akademisi. Acara serupa juga digelar di Bandung, Makasar, Surabaya, dan Bali.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Aris Eka Nugraha yang hadir dalam kesempatan tersebut menyatakan Jogja sebenarnya mampu bersaing dengan Bali dan Jakarta karena DIY merupakan pusatnya kreatifitas dengan daya dukung yang cukup banyak dari potensi budaya, pendidikan, dan sebagainya. Ia juga berharap dalam waktu dekat Jogja memiliki bangunan CIC.