Tlogo Muncar Jadi Andalan Sleman di Musim Kemarau

Wisatawan berwisata di Tlogo Muncar, kawasan wisata Kaliurang, Sleman, Sabtu (23/6/2018). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
15 Juli 2019 03:47 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Tlogo Muncar di kawasan Kaliurang, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem menjadi andalan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Sembada Sleman untuk menekan biaya tinggi saat kemarau.

Direktur Utama PDAM Tirta Sembada Dwi Nurmata mengatakan selain Tlogo Muncar, perusahaannya juga memaksimalkan reservoir di Beji yang juga berada di Desa Hargobinangun. Pasalnya jika menggunakan sumber air dalam, maka penggunaan sumur pompa menurut dia akan memakan biaya tinggi untuk keperluan penyedotannya.

“Karena itu, PDAM menggunakan sistem yang ada di Tlogo Muncar dan Beji yang memang pada awalnya dipakai untuk pemenuhan kebutuhan jangka panjang dan dalam rangka menghadapi kekeringan, itu juga upaya efisiensi yang kami lakukan," kata Dwi kepada Harian Jogja, Sabtu (13/7/2019).

Meski begitu dia menegaskan efisiensi tersebut tak akan berimbas pada tarif untuk pelanggan. "Kami pastikan tidak ada kenaikan tarif. Tarif yang berlaku sekarang merupakan tarif 2016. Rencana untuk menaikkan tarif juga tidak ada," ujar dia.

Tak hanya itu, PDAM Tirta Sembada, kata dia juga telah menyiapkan rencana jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan mengantisipasi kekeringan. Salah satunya adalah pembangunan Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) Regional tahap II yang berada di Kebonagung, Kecamatan Godean.

"Tahap I sudah, yang tahap II ada di Kebonagung, Kecamatan Minggir dengan kapasitas 120 liter per detik untuk Sleman. Selain itu upaya lain yang akan kami lakukan adalah memaksimalkan sejumlah sumber air yang ada di Sleman," ucap dia.

Krisis air bersih saat musim kemarau menjadi masalah tahunan yang dihadapi warga Kecamatan Prambanan, Sleman. Tiap tahun, masyarakat Prambanan khususnya yang lokasi desa berada di wilayah atas, rutin mengajukan permohonan dropping air.

Kasi Mitigasi Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Joko Lelono menilai dropping bukan merupakan solusi terbaik dalam penanganan krisis air. Oleh karena itu sejak tahun lalu BPBD Sleman mulai menginisiasi komitmen zero dropping di sejumlah desa yang ada di Kecamatan Prambanan. “Setidaknya ada tiga desa di wilayah Kecamatan Prambanan yang turut mendeklarasikan komitmen tersebut yakni Gayamharjo, Sambirejo, dan Wukirharjo,” kata dia.

Joko menambahkan fasilitas Pengelolaan Air Minum Desa (PAMDes) kini sudah menjangkau hampir seluruh desa yang rawan kekeringan di Kecamatan Prambanan. Operasional PAMDes memanfaatkan tiga sumber air yang ada di jaringan, yakni Grogol, Mejasem, dan Bleber. “Ketiganya dikelola oleh kelompok masyarakat,” ucap Joko.