Tahun Ajaran Baru Sudah Mulai, Banyak Kursi Kosong di Sekolah Perbatasan

Siswa SMPN 1 Wates sudah memulai kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) pada Senin (15/7/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
16 Juli 2019 02:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Jumlah siswa di 12 SMP dan tiga SMA di Kulonprogo kurang dari kuota Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang sudah ditetapkan. Paling banyak sekolah yang kurang siswa tersebut letaknya di perbatasan.

Setelah PPDB rampung, sekolah memulai kegiatan belajar mengajarnya diawali dengan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS). "Ini mulai PLS tiga hari dari 15 Juli ini sampai 17 Juli," ujar Kepala Sekolah SMPN 3 Girimulyo, Sugeng Siswanta pada Harianjogja.com, Senin (15/7/2019).

Pada PPDB tahun ini SMPN 3 Girimulyo menerima siswa sebanyak 45 orang. Jumlah itu sebenarnya kurang jauh dari kuota yang disediakan untuk SMP 3 Girimulyo. Dari kuota sebanyak 128 orang, SMP tersebut kurang 83 siswa lagi.

Namun, kegiatan belajar mengajar di SMPN 3 Girimulyo tetap berlangsung dengan dua rombongan belajar. Sugeng mengatakan penurunan jumlah siswa yang masuk ke SMPN 3 Girimulyo sudah berlangsung dari tiga tahun lalu. Tahun ini, jumlah siswa yang masuk dibanding tahun lalu juga berkurang. Tahun lalu, ia menerima sebanyak 52 siswa.

"Ini kurang dari kuota karena sekolah kami ada di wilayah perbatasan. Lulusan SD juga sedikit. Sebenarnya untuk rombel tercukupi dua rombel ya tidak masalah," ujarnya.

Selain berada di wilayah perbatasan dan lulusan SD yang sedikit, adanya sekolah baru di Purworejo membuat calon siswa di Purworejo yang biasa daftar ke SMPN 3 Girimulyo kini memilih sekolah di Purworejo. Pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kulonprogo terkait permasalahan tersebut.

Begitu juga dengan SMAN 1 Temon yang jumlah siswanya tidak memenuhi kuota PPDB tahun ini. Kepala Sekolah SMAN 1 Temon, Agus Nur Khafid mengatakan, sekolahnya hanya mendapatkan siswa sebanyak 101 orang dari kuota 144 siswa dalam pelaksanaan PPDB tahun ini.

Ia mengatakan, kondisi kekurangan siswa tersebut terjadi di SMAN 1 Temon sejak diberlakukan sistem zonasi dalam PPDB. Sebelumnya, banyak calon siswa dari Purworejo yang mendaftar, kini lebih memilih sekolah di Purworejo karena aturan zonasi. Tidak hanya SMAN 1 Temon, jumlah siswa kurang dari kuota juga terjadi di SMKN 1 Temon, dan SMAN 1 Samigaluh.

"Dampak yang akan dirasakan ketika kekurangan siswa nanti kewajiban jam mengajar guru yang juga ikut berkurang. Jadinya banyak guru yang cari jam ngajar di sekolah lain," ujar Agus. Guru diwajibkan mengajar dengan alokasi waktu 24 jam dalam sepekan.

Menurut Kepala Disdikpora Kulonprogo, Sumarsana, terkait tidak terpenuhinya kuota di 12 SMP terjadi karena lulusan SD yang sedikit. Kuota yang disediakan untuk SMP yaitu 7.328 siswa. Sementara, jumlah lulusan SD sebanyak 6.120 siswa.

Dalam menyikapi tidak terpenuhi kuota siswa di 12 SMP pihaknya menginstruksikan kepala sekolah untuk mendata calon siswa lulusan SD baik yang tidak lolos PPDB maupun tidak ikut PPDB. "Saat ini data dari SMP itu belum stabil. Kemungkinan data ada per akhir Juli," ujar Sumarsana pada Senin.