Bakal Dibangun Museum Hingga Hotel Kapsul di Kawasan Stasiun Tugu Jogja

Suasana Stasiun Tugu Yogyakarta, Jogja, Senin (17/6)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
19 Juli 2019 06:27 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Proyek revitalisasi Stasiun Tugu Jogja dimulai tahun ini. Revitalisasi stasiun tugu ke depan bakal berdampak pada penataan kawasan di sekitarnya.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti, mengatakan desain rencana revitalisasi stasiun tugu sudah disepakati oleh lima pihak yang terjalin kerjasama. Mulai Pemkot, Pemda DIY, Kerton Jogja, PT KAI dan Hutama Karya selaku pengembang. Desian yang diusung, meski tampil modern tetapi tetap menonjolkan kekhasan Jogja.

"Desain sudah disepakati bersama lima pihak. Revitalisasi meliputi kawasan seluas 8 hektare, dengan luas bangunan 135.000 meter persegi atau 13,5 hektare. Estimasi biayanya sekitar Rp854 miliar," kata Haryadi, Kamis (18/7/2019).

Menurutnya, revitalisasi Stasiun Tugu sebagian masih mempertahankan bangunan lama (eksisting) dan sebagian lainnya direvitalisasi. Secara arsitektur, kawasan ini akan memiliki fungsi stasiun, parkir, kawasan zona komersial, termasuk ruang terbuka hijau.

Salah satu pengembangan yang akan dilakukan adalah rencana peron khusus bagi kereta bandara. "Kalau saat ini untuk kereta bandara peron dilayani di sisi Selatan, ke depan sisi Utara akan dijadikan akses (peron) khusus kereta bandara," katanya.

Revitalisasi kawasan stasiun tugu tersebut dalam jangka panjang juga berdampak pada perubahan arus lalulintas di sekitar stasiun tugu. Termasuk penataan lahan para pengusaha mikro atau kaki lima di sana. Sebab kawasan tersebut nantinya akan dikembangkan sebagai kawasan terintegrasi di mana selain kereta bandara, di kawasan tersebut juga akan dibangun museum, kawasan hunian dan komplek komersial.

"Nanti ada museum, galeri, pusat perbelanjaan, hunian apartemen berbentuk hotel kapsul yang sudah banyak diadopsi seperti di Stasiun Gambir Jakarta. Itu gambarannya.Modern tapi tidak meninggalkan aspek tradisional Jogja," katanya.

Revitalisasi stasiun tugu, kata Haryadi akan menjadikan sub kawasan Malioboro itu sebagai pintu gerbangnya Jogja. Sebab Stasiun Tugu akan menjadi pintu perlintasan para wisatawan yang masuk melalui bandara YIA. Mau tidak mau, katanya, sistem transportasi harus dibenahi untuk menampung wisatawan yang masuk Jogja. "Dengan kapasitas bandara YIA 26 juta orang per tahun, ambil 50% nya saja yang masuk tempat wisata di Jogja, maka akses ke Malioboro harus lebih representatif," kata Haryadi.

Meski begitu, Haryadi belum bisa membeberkan secara detail setiap tahapan yang akan dilakukan untuk pengembangan kawasan tersebut sebagai Transit Oriented Development (TOD). "Nanti pada saatnya kami akan gelar konferensi pers. Sebab informasi ini juga menjadi kesiapan bagi masyarakat untuk menyesuaikan dengan perubahan pola arus lalulintas, pola masuk ke stasiun, selama proses pembangunan berlangsung. Sebab pelayanan publik tidak berhenti dan angkutan kereta tidak boleh terganggu dengan proyek ini," kata Haryadi.