Pertunjukan Video Mapping Pertama di Jogja Sukses Pukau Penonton

Pengunjung menyaksikan pertunjukan video mapping dan seni instalasi cahaya, Sumonar, di Kawasan Titik Nol Kilometer Jogja, Jumat (26/7/2019) malam. Sumonar digelar mulai Jumat hingga 5 Agustus 2019. - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
27 Juli 2019 22:17 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Festival video mapping dan seni instalasi cahaya yang pertama kali digelar di Indonesia resmi dibuka Jumat (26/7/2019) malam. Sekitar 13 seniman video mapping dan 12 seniman instalasi akan unjuk gigi dalam perhelatan yang dinamai Sumonar ini.

Festival ini mengambil tempat di Titik Nol Kilometer Jogja. Para seniman menjadikan dua gedung, Museum Bank Indonesia dan Kantor Pos Besar Jogja sebagai latar. Sinar warna-warni yang bercerita tentang My Place My Time menyoroti kedua gedung ikonik tersebut.

Aksi menawan perpaduan seni dan teknologi itu menjadi tempat swafoto wisatawan yang memadati Titik Nol Jogja. Ratusan orang tidak hanya menikmati visualnya yang apik, tetapi juga menyaksikan sejarah baru karya instalasi seni di Kota Jogja. Saat menyaksikan efek cahaya yang menawan tak sedikit yang bersorak dan bertepuk tangan.

"Prosesnya panjang untuk membentuk video mapping ini. Mulai dari videographer, scriptwriter, music director, musisi dan banyak lagi yang terlibat hingga tercipta karya seni indah ini," kata Festival Director Sumonar, Ari Wulu, di sela-sela kegiatan, Jumat malam.

Festival video mapping dan seni instalasi cahaya sejatinya bukan kali pertama muncul di Jogja. Sebelumnya, kegiatan ini dikenalkan pada 2013 selama helatan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) dengan nama Jogja Video Mapping Festival (JVMF). Seiring waktu, pada 2018 muncul gagasan untuk membentuk festival sendiri sehingga muncul nama Sumonar menggantikan JVMF.

Menurut Ari, ide mengubah nama dari JVMF ke Sumonar muncul setelah mereka melihat instalasi seni cahaya di Moscow, Rusia dan Sidney, Australia. Dari perjumpaan tersebut munculah nama Sumonar yang dia nilai lebih mewakili seni cahaya di Indonesia. "Sumonar berasal dari penggabungan dua kata, Sumon dan Sumunar. Sumon artinya mengumpulkan dan Sumunar maknanya bercahaya," katanya.

Kurator Sumonar 2019, Sujud Dartanto, menambahkan dalam event ini seniman dibebaskan memilih media dan teknik yang digunakan. Alasannya, video mapping tidak hanya membahas tentang bagaimana proses penciptaan video, tetapi juga ilustrasi musik, 3D desain, arsitektural, scriptwriting, dan lainnya. "Seniman yang menghasilkan video mapping makin banyak. Ini tidak terlepas dari perkembangan teknologi digital yang memunculkan kreasi baru," kata Sujud.

Festival tersebut akan berlangsung hingga 5 Agustus 2019 dengan karya-karya berbeda setiap malamnya. Di hari pertama Sumonar menampilkan karya-karya yang diciptakan Raymond Nogueira/Rampages, Fanikini x Bagustikus x Kukuhjambronk, LYZVisual, Uvisual, Modar, Furyco, Lepaskendali x Bazzier x Sasi. "Kami berharap Sumonar ini menjadi sebuah karya yang lebih dikenal luas," kata Ketua Jogja Video Mapping Project, Raphael Donny.