Pengelolaan Atraksi di Jalan Malioboro Butuh Tim Khusus

Pengunjung Malioboro berfoto di tengah jalan saat uji coba bebas kendaraan bermotor, Selasa (18/6/2019). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
28 Juli 2019 21:37 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Pariwisata (Dispar) DIY mengusulkan satu tim khusus yang mengelola atraksi di sepanjang Jalan Malioboro selama uji coba bebas kendaraan bermotor tiap Selasa Wage.

Kepala Dispar DIY Singgih Raharjo mengatakan adanya pengelola khusus di setiap Selasa Wage itu bukan tanpa alasan. Selain bertujuan agar program seni dan budaya yang dipertunjukkan terarah, hal itu untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, disusupi kegiatan berbau SARA, anti-NKRI dan pelanggaran hukum lainnya.

Dispar, kata dia, berharap agar panggung atraksi terpanjang tersebut ke depan tetap menampilkan atraksi seni dan budaya yang ada di wilayah DIY. "Adanya tim khusus yang mengelola setiap kegiatan pada Selasa Wage itu tujuannya lebih pada antisipasi saja. Untuk mengatur, menata setiap kelompok seni yang tampil," katanya akhir pekan lalu.

Singgih mengatakan keberadaan tim khusus pengelola Selasa Wage ini juga nanti bisa mengatur kelompok-kelompok seni yang tampil sesuai tema. Tim ini juga bisa mengkurasi atau mengindentifikasi berbagai kegiatan di sepanjang Malioboro. “Tujuannya agar kesenian dan atraksi budaya yang ditampilkan tidak monoton,” ucap dia.

Diakui dia sejak awal uji coba kawasan semi pedestarian kawasan Malioboro pada 18 Juni lalu atraksi kesenian yang digelar sejumlah kelompok sudah menyedot perhatian masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Malioboro. "Karena ini menjadi daya tarik wisata baru, maka pengaturan spot-spot juga penting dilakukan," katanya.

 

Kesiapan

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY Sigit Sapto Raharjo mengakui pelaksanaan uji coba tersebut masih perlu terus dievaluasi. Meski begitu, selama dua kali dilakukan uji coba tersebut semakin tertib dan terus membaik. "Ada yang mengusulkan agar digelar selain Selasa Wage. Seperti malam Sabtu atau malam Minggu. Kami siap-siap saja. Hanya apakah Pemkot membolehkan?" katanya.

Menurutnya, pelaksanaan uji coba di luar Selasa Wage harus menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari kesiapan petugas Dishub, termasuk partisipasi dari pihak kepolisian dan komunitas. Hal ini dilakukan agar lalu lintas kendaraan bisa dikendalikan. Pelaksanaan uji coba selain Selasa Wage, kata Sigit, juga bisa dibarengi dengan kegiatan tertentu.

Misalnya, Dispar mengadakan kegiatan festival atau kegiatan besar lainnya. Penutupan jalan Malioboro bisa dilakukan. "Jadi tidak hanya melaksanakan uji coba. Semuanya harus disiapkan. Saat ini masih dibenahi, terutama soal event," katanya.

Sebelumnya, Pemkot Jogja masih mempertimbangkan untuk menambah intensitas uji coba kawasan semi pedestrian Malioboro. Uji coba kawasan semi pedestrian Malioboro baru dilaksanakan setiap Selasa Wage atau 35 hari sekali.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti mengatakan masukan dan usulan dari berbagai pihak untuk menambah lagi waktu uji coba semi pedestrian Malioboro masih dipertimbangkan. "Usulan itu tentu kami pertimbangkan. Tapi terlebih dulu kami akan lakukan terus lakukan evaluasi. Apakah perlu durasi ditambah?," katanya, Jumat (26/7).

Menurut Haryadi, dari dua kali uji coba hal yang paling menjadi catatan adalah traffic flow atau arus lalu lintasnya. "Praktik flow-nya harus lebih baik, rambu-rambu lalu lintas harus diperbanyak serta juga harus disosialisasikan dengan baik," kata dia.