Dirjen IKMA: Branding Produk Lokal Masih Kalah Bersaing dengan Produk Luar Negeri

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih melihat salah satu karya seni di Sangkring Art Space, Bantul, Jumat (26/7/2019). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
28 Juli 2019 17:27 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Penjenamaan (branding) produk industri kecil menengah di Indonesia, termasuk di DIY dinilai masih kalah bersaing dengan produk luar neger. Buktinya, banyak produk dalam negeri yang diekspor justru menggunakan jenama milik perusahaan asing.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih tak menampik sejatinya banyak produk IKM dalam negeri yang berkualitas ekspor. Sayangnya, sampai sejauh ini, produk-produk tersebut kalah saing dalam branding dengan produk di luar negeri.

Buyer [pembeli] di luar negeri terkadang enggak mau brand Indonesia dicantumkan, ini kan enggak fair,” kata Gati, seusai membuka acara Indonesia Good Design Selection (IDGS) 2019 di Sangkring Art Space, Desa Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Bantul, Jumat (26/7/2019) malam.

Oleh karena itu Gati mendorong pelaku IKM untuk menerapkan standar produk serta terus berinovasi dan berkreasi. Beberapa kriteria kualitas yang harus terus ditingkatkan, kata dia, di antaranya adalah terkait dengan kualitas desain. “Karena diakui atau tidak, branding dan desain produk menjadi bagian terpenting,” ucap Gati.

Guna memacu inovasi dan kreasi desain produk yang dilakukan Kementerian Perindustrian salah satunya melalui IGDS 2019. Gati mengatakan IGDS merupakan ajang penghargaan tertinggi desain produk atau industri di Indonesia yang diselenggarakan dua tahun sekali.

IGDS tahun ini bertema Indonesian Design Goes Global dan mempunyai empat jenis penghargaan yaitu Best 20 yang diberikan kepada 20 produk terbaik; penghargaan People’s Choice diberikan kepada satu produk yang dipilih secara online; lalu ada Best 3 yang diberikan kepada tiga produk terbaik; serta Grand Award sebagai penghargaan tertinggi yang diberikan kepada satu produk terbaik.

“Dalam empat penghargaan tersebut terdiri dari enam kategori yaitu, furnitur dan home decor; industri kriya; perhiasan dan aksesori fesyen; kemasan inovatif; alas kaki, serta perlengkapan kantor,” ucap dia.

Lebih lanjut Gati mengatakan desain produk hasil IGDS 2019 nantinya akan diuji dalam skala internasional melalui lembaga di Inggris. Dia mengakui persaingan yang dihadapi dunia industri Indonesia semakin lama kian berat, sehingga diharapkan para pelaku industri mampu melakukan pengembangan produk yang dapat diterima dan diapresiasi oleh konsumen.

Solusi dan manfaat produk yang sesuai bagi konsumen akan memberikan dampak ekonomi yang lebih baik. “Penyelenggaraan IGDS 2019 diharapkan tidak hanya jadi sebuah kegiatan, namun akan jadi gerakan yang dapat meningkatkan citra positif bangsa melalui produk-produk Indonesia yang inovatif dengan kualitas desain yang baik, ujar dia.

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian Bantul Agus Sulistiyana mengatakan angka kemiskinan di DIY, tak terkecuali di Bantul tak pelak memang jadi perhatian semua pihak.

Menurut dia, salah satu upaya pengentasan kemiskinan adalah dengan melatih masyarakat untuk bisa lebih produktif. “Untuk itu diperlukan pelatihan skill, salah satunya adalah kemampuan di sektor industri kerajinan. Tidak hanya memproduksi, namun juga bagaimana mengemas dan memasarkannya,” ujar mantan Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Bantul tersebut.