Fasilitas Kesehatan Semakin Mudah, Angka Harapan Hidup Terus Meningkat

RSUD Wonosari, Gunungkidul - JIBI/Harian Jogja
31 Juli 2019 22:47 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Angka harapan hidup (AHH) warga di Gunungkidul terus meningkat. Peningkatan ini tak lepas dari akses masyarakat kepada fasilitas kesehatan (faskes). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul, rata-rata AHH pada 2015 mencapai 73,69 tahun; pada 2016 mencapai 73,76 tahun; pada 2017 mencapai 73,82 tahun; dan pada 2018 naik menjadi 73,92 tahun.

Kendati demikian, AHH di Gunungkidul berada di posisi ke empat se-DIY. Kondisi geografis Bumi Handayani yang mencapai 46,63% dari total luas wilayah DIY menjadi tantangan tersendiri bagi Pemkab dalam mengembangkan wilayah.

"Hal itu wajar dan tidak bisa dibandingkan dengan wilayah kota," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunungkidul, Sri Suhartanta, saat ditemui Harian Jogja, Rabu (31/7/2019).

Menurutnya, AHH masuk ke dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) yang berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia (SDM). Kualitas SDM yang meningkat diukur dari faktor kesehatan, AHH, rata-rata lama sekolah, dan angka harapan pendidikan.

Sri menjelaskan akses ke faskes merupakan salah satu indikator lama AHH sebuah daerah. Akses faskes di Gunungkidul meliputi akses fisik, keterjangkuan secara fisik terhadap faskes serta ada akses sosial. "Maksudnya adalah bagaimana kesempatan masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan," katanya.

Diakuinya, akses fisik yang terdiri dari jarak, orbitrasi dan infrastruktur di beberapa wilayah Gunungkidul masih jauh dari faskes. Meski demikian, dalam lima tahun terakhir Pemkab telah mengupayakan pembangunan faskes. "Kami sudah mendirikan rumah sakit tipe D di Kecamatan Saptosari untuk menjangkau masyarakat di sisi selatan," ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan Sri, Pemkab terus berupaya memperbaiki akses sosial, salah satunya program mengikutsertakan peserta rumah tangga miskin ke dalam program BPJS Kesehatan. "Harapannya semua masyarakat mendapat layanan kesehatan," katanya.

Kepala BPS Gunungkidul, Sumarwiyanto, mengatakan bayi yang lahir pada 2018 mempunyai AHH selama 73,92 tahun. AHH dihitung dari angka kematian yang datanya diperoleh dari catatan registrasi kematian secara bertahun-tahun. "Sehingga dari situ bisa dibuat tabel kematian," ucap Sumarwiyanto.

Menurutnya, tingkat kesadaran kesehatan masyarakat Gunungkidul meningkat jika dilihat dari jumlah ibu yang melahirkan. Saat ini tak ada lagi ibu melahirkan yang dibantu dukun tetapi sudah ke rumah sakit. "Hal tersebut berpengaruh semakin kecilnya tingkat kematian bayi," katanya.