Antisipasi Serangan Satwa Liar, DPP Imbau Kandang Ternak Diperkuat

Warga melihat kambing milik Siti Fatimah yang sekarat akibat serangan anjing liar di Dusun Kemorosari, Desa Piyaman, Kecamatan Wonosari, Kamis (1/8/2019). - Istimewa
05 Agustus 2019 20:12 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Guna mengantisipasi serangan hewan liar terhadap ternak milik warga, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul menerbitkan surat edaran yang berisi imbauan agar warga memperkuat kandang dan menggalakkan ronda.

Surat edaran ini merupakan tindak lanjut adanya serangan hewan liar terhadap ternak milik warga yang terjadi di Desa Piyaman, Kecamatan Wonosari selama sepekan terakhir. Dua ekor kambing dilaporkan tewas dimangsa anjing liar.

Kepala DPP Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, mengatakan munculnya serangan hewan liar terhadap ternak milik warga di Desa Piyaman, Kecamatan Wonosari, diduga dipicu musim kemarau di mana banyak hewan liar berkeliaran mencari sumber air dan mangsa hingga ke permukiman. Oleh karena itu, warga harus mengamankan ternaknya. "Hewan ternak yang dikandangkan di ladang yang jauh dari permukiman harus dibawa pulang," ujarnya, Senin (6/8/2019).

Sebagai langkah antisipasi, warga juga harus bersiaga dengan terus memantau dan mengawasi ternak mereka. "Bisa dengan ronda atau jaga malam," kata dia.

Pemilik ternak diimbau untuk memperkuat konstruksi kandang. Selain itu komunikasi, edukasi, dan informasi kepada masyarakat juga harus ditingkatkan. “Kami bekerja sama dengan UPT Kesehatan Hewan, aparat TNI, Polri dan pemerintah desa siap memberikan sosialisasi dan informasi terkait dengan pengamanan hewan ternak kepada semua warga,” katanya.

Bambang Wisnu juga menghimbau agar hewan ternak yang sudah mati karena serangan hewan liar untuk tidak dimasak. "Kami khawatir hewan tersebut terkena rabies kalau memang digigit anjing liar," ujarnya.

Kepala Bidang Peternakan DPP Gunungkidul, Suseno Budi Sulistiyanto, menuturkan munculnya serangan hewan liar terhadap ternak karena habitat atau ekosistemnya mengalami perubahan. "Hewan liar susah mencari air untuk minum dan lapar sehingga masuk ke permukiman warga," ucap dia.

Ia menyebut pada 2017 merupakan puncak serangan hewan liar terhadap hewan ternak. Jumlah hewan ternak yang menjadi mangsa mencapai 180 ekor hewan ternak meliputi sapi, kambing, dan ayam.

"Itu terjadi di wilayah selatan Kabupaten Gunungkidul sebab hewan ternak ada di perbukitan. Tahun lalu tidak ada laporan hewan ternak yang dimangsa," katanya. Menurutnya, pemasangan lampu di sekitar kandang perlu dilakukan agar hewan ternak dapat dipantau. "Supaya tahu hewan liar apa yang masuk ke kandang," katanya.