Hadapi Kemarau Panjang, Warga Gunungkidul Diminta Bijak Memakai Air
Kemarau hingga 7 bulan diprediksi terjadi di Gunungkidul. BPBD siapkan jutaan liter air, warga diminta hemat sejak dini.
Warga melihat kambing milik Siti Fatimah yang sekarat akibat serangan anjing liar di Dusun Kemorosari, Desa Piyaman, Kecamatan Wonosari, Kamis (1/8/2019)./Istimewa
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Memasuki puncak musim kemarau potensi serangan hewan liar terhadap ternak meningkat. Di Dusun Kemorosari, Desa Piyaman, Kecamatan Wonosari, kambing milik Siti Fatimah sekarat diserang anjing liar, Kamis (1/8/2019) dini hari.
"Saya punya dua ekor kambing dan salah satunya sekarat karena digigit anjing liar," kata Siti kepada wartawan, Kamis.
Menurut dia, serangan terjadi pukul 03.00 WIB. Saat itu ia mendengar suara gaduh dari kandang dan langsung keluar untuk melihat kondisi. "Setiba di kandang saya melihat dua ekor anjing yang berlari menjauh. Kemudian saya tengok ke kandang dan melihat salah satu kambing sudah sekarat dengan usus terburai," katanya.
Pada pagi harinya, kambing yang sekarat ini langsung disembelih. Meski demikian, keluarga Siti tidak berani mengonsumsi daging kambing karena takut terkena rabies. "Kami kasihan karena kambing sekarat dengan kondisi mengenaskan. Setelah disembelih lalu kami kubur," tuturnya.
Siti mengaku kecewa karena kambing yang diserang sudah ditawar seharga Rp500.000. Menurut dia, serangan hewan liar ini bukan yang pertama. Sekitar satu pekan lalu ada kambing yang digigit di bagian ekor. "Tidak mati karena hanya digigit di ekornya saja," katanya.
Kepala Seksi Pemerintahan, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Suyanto mengakui potensi serangan hewan liar terhadap ternak warga meningkat pada saat kemarau. Hal ini mengacu pada kejadian di tahun-tahun sebelumnya, di mana serangan terjadi saat musim kemarau. "Kalau musim hujan relatif aman dan banyak ternak yang dipelihara di kawasan hutan," katanya.
Untuk mengantisipasi serangan, pemerintah desa sudah mengimbau kepada masyarakat memindah ternak ke dekat rumah. Pemindahan dilakukan agar upaya pengawasan lebih mudah sehingga tidak menjadi korban serangan hewan liar. "Pemindahan kandang mendekat ke rumah merupakan cara yang paling efektif," tuturnya.
Sebagai contoh, kata Suyanto, sebelum ada pemindahan, di 2017 ada 80 ekor yang menjadi korban. Jumlah ini berkurang drastis di tahun lalu karena hanya ada sembilan ekor kambing yang siserang hewan liar. "Keberhasilan menekan serangan hewan liar tidak lepas dari kesadaran masyarakat untuk memindahkan kandang mendekat ke rumah sehingga pengawasan jadi lebih mudah," katanya.
Menurut Suyanto, hingga saat ini sudah ada sekitar 150 ekor ternak yang dipindah pemeliharaanya ke rumah. "Belum semua warga mau memindahkan, tapi kami terus membuat imbauan karena ini demi keamanan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemarau hingga 7 bulan diprediksi terjadi di Gunungkidul. BPBD siapkan jutaan liter air, warga diminta hemat sejak dini.
Jadwal KRL Solo–Jogja 20 Mei 2026 lengkap semua stasiun dari Palur ke Tugu. Cek jam berangkat terbaru dan tarif Rp8.000.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.