Kemarau Panjang, Petani Cabai Kulonprogo Gembira

Petani di Dusun Bugel, Desa Bugel, Kecamatan Panjatag panen cabai, Sabtu (3/8/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
05 Agustus 2019 00:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Petani cabai di Kulonprogo menikmati kemarau panjang karena hasil panen dari Mei lalu yang masih berlangsung sampai sekarang akan melimpah. Harga pun dianggap terus merangkak naik.

Salah satu petani cabai di Dusun Bugel, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Sulasmi, mengatakan harga cabai setelah panen dimulai dari Mei lalu terus merangkak. Harga cabai rawit dari pas bulan puasa saat awal panen masih di kisaran Rp8.000 per kilogram.

“Kini, di tingkat petani bisa sampai Rp65.000 per kilogram,” ungkapnya kepada Harian Jogja, Sabtu (3/8/2019).

Sementara, untuk cabai keriting harga di petani sekarang bisa sampai Rp50.000. Apabila kemarau masih lama, maka hasil panen juga akan terus baik.

Menurut Sulasmi, tidak hanya hasil panenan cabai yang terus berproduksi, kualitas cabai pun bagus. Kualitas cabai yang bagus dikarenakan hama yang menyerang cabai di musim kemarau tidak terlalu banyak dibanding musim hujan.

Ketua Kelompok Tani Fisik Pranaji Desa Bugel, Sukarman, menuturkan saat ini permintaan cabai tidak hanya datang dari lokal Kulonprogo saja tetapi juga permintaan datang dari Jakarta sampai Pulau Sumatra.

Dibanding saat awal tahun lalu, kini harga cabai jauh berbanding terbalik. Saat awal tahun lalu, harga cabai sedang terpuruk terpuruknya. Cabai di tingkat petani hanya dihargai Rp3.500 per kilogram. Petani cabai di pesisir selatan membakar tanaman cabainya untuk pengosongan lahan diganti dengan menanam melon dan semangka.

Tidak hanya mengandalkan cabai, petani di pesisir selatan juga mengandalkan semangka dan melon saat harga cabai terpuruk. “Harga melon atau semangka lebih stabil dibanding cabai, biaya produksinya juga relatif lebih murah,” ujar Sukarman.