Kemarau Untungkan Petani Kopi Lereng Merapi

Ketua Kelompok Tani Cipto Makmur Pairin saat berfoto di lahan kopi di Dusun Kepung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY, Senin (5/8/2019). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
06 Agustus 2019 06:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Produksi kopi Merapi utamanya jenis robusta mengalami penurunan produksi. Hal tersebut dinilai wajar karena tiap empat tahun kopi robusta mengalami istirahat produksi.

Ketua Koperasi Kebun Makmur Sleman di Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman Sumijo mengatakan jika hal di atas merupakan laporan dari beberapa petani Koperasi Kebun Makmur. "Kalau produksi tetap masih ada tetapi tapi tidak banyak," kata Sumijo kepada Harianjogja.com, Senin (5/8/2019).

Sumijo mengatakan untuk kualitas panen tahun ini masih tetap bagus walau sedang dalam periode musim kemarau. "Panen pas musim kemarau ada sisi positifnya, yaitu memudahkan pengeringan biji kopi," katanya.

Terkait dengan kendala, Sumijo membeberkan, kendala sarana produksi adalah jalan yang rusak menuju kebun kopi menjadi masalah. Apalagi kebanyakan kebun kopi berada di kawasan rawan bencana (KRB) 3 kilometer.

"Jarak kebun dengan rumah tinggal yang jauh juga menjadi kendala, sarana produksi pengolahan kopi yang masih kurang seperti pengeringan atau penjemuran kopi, gudang, peralatan yang sudah berumur tua, mesin roasting yang kualitasnya kurang standar untuk mengarah ke kopi specialty," paparnya.

Sumijo mengatakan, upaya dukungan dari pemerintah sendiri masih berkutat pada bantuan sumber bibit kopi kepada 800 petani dan membantu promosi kopi. "Luas lahan area tanaman kopi koperasi kebun makmur Sleman sendiri berapa njih sekarang sekitar 250 hektare," jelasnya.

Sumijo mengharapkan, sarana pengolahan kopi yang masih kurang bagus agaknya menjadi perhatian pemerintah. "Walaupun kami tetap berupaya untuk latihan mandiri, apalagi kopi merapi sudah banyak peminatnya," ujarnya.

Disamping itu, lanjut Sumijo, kalau perkebunan kopi di lereng Merapi dapat berkembang bagus paling tidak ada dampak positifnya dari sisi ekonomi dan kelestarian alam lereng Merapi akan terjaga. "Untuk pemasaran saat ini tidak begitu masalah," imbuhnya.

Ketua Kelompok Tani Cipto Makmur di Dusun Kepung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY Pairin, mengatakan jika saat ini saat ini kualitas kopi di lahan milik petani Poktan Cipto Makmur terbilang masih bagus. "Kopi yang ditanam oleh petani masih cukup bagus," kata Pairin.

Berkaitan dengan hama, Pairin mengatakan, Poktan Cipto Makmur sendiri menggunakan mesia pemberantasan hama yang alami. "Kami coba dengan memakai daun Mindi," ujarnya.

Pairin mengatakan, jika Poktan Cipto Makmur tidak terlalu kesulitan dalam menjual produk kopi Merapi yang diproduksi di Dusun Kepung. "Tahun ini produk meningkat 5 persen jika dibandingkan tahun 2018 lalu, pertama kami tampung di koperasi dulu, lalu ada tengkulak yang sudah siap menampung, tak lupa kami juga selalu dibina oleh Petugas Penyuluh Lapangan dari DP3," jelasnya.

Senada dengan Sumijo, Pairin mengatakan jika pemerintah dalam hal ini DP3 membantu petani dengan pemberian bibit. "Bibit tergantung permintaan petani tahun kemarin baru 700-an kilo glondong basah, satu kelompok dapat kisaran bibit tegakkan sebanyak 12.000. Tahun ini belum ada planning panambahan tegakan," ujarnya.

Pairin mengatakan, kopi robusta dibanderol dengan harga Rp6.000 per kilogram, sedangkan kopi Arabika dibanderol dengan Rp7.000 per kilogram. "Terkait dengan pemasaran, tidak ada kendala," tutupnya.