Sudah 2 Warga Kulonprogo Meninggal, Kenali Ciri Terkena Leptospirosis

Ilustrasi leptospirosis, - JIBI
15 Agustus 2019 19:37 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Sampai pertengahan tahun, di Kulonprogo sudah terjadi 24 kasus leptospirosis, dengan dua orang meninggal dunia. Kecepatan mengenali penyakit tersebut menjadi kunci penanganan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Perlindungan Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo Baning Rahayujati mengatakan, kasus leptospirosis terjadi karena kegagalan fungsi organ pada penderita. Penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri leptospira interrogans. Penyebarannya melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi seperti tikus.

"Masyarakat harus cepat mengenali penyakit lepto," ujar Baning pada Kamis (15/8/2019). Kecepatan mengenali penyakit leptospirosis diharapkan bisa mengurangi resiko paling buruk yaitu kematian. Penanganan pada seseorang yang terkena kasus leptospirosis bisa dengan cepat dilakukan. Indikasi orang terkena penyakit tersebut diawali dengan demam dan nyeri betis.

Penyakit leptospirosis biasanya menyerang para petani karena banyak kontak dengan urine tikus sebagai hewan yang terinfeksi. "Kalau sudah terlanjur (kontak dengan urine tikus) langsung membasuh kulit dengan sabun deterjen atau mandi," ungkap Baning.

Sampai pertengahan tahun ini, pihaknya mencatat, sudah ada 24 kasus leptospirosis terjadi di Kulonprogo. Dua diantaranya meninggal dunia. Sedangkan, pada tahun lalu, total Dinkes Kulonprogo menemukan 26 kasus leptospirosis dengan lima orang meninggal dunia.

Pihaknya berupaya agar bisa dengan cepat mendeteksi kasus leptospirosis di tiap pelayanan kesehatan. Apabila terindikasi kasus leptospirosis, pihaknya bisa dengan cepat menanganinya. Pemantauan terus dilakukan, dan di tiap pekan ada laporan penyakit yang krusial ditangani.

"Sebaran penyakit leptospirosis merata, ada di tiap kecamatan di Kulonprogo dengan rentang usia penderita berkisar pada 15 tahun ke atas," kata Baning.