Hari Pertama Bulan Tertib Jalan, Satpol PP DIY Bongkar Ratusan Reklame Ilegal
Petugas Satpol PP DIY menertibkan setidaknya ratusan buah sampah visual berupa spanduk, banner, dan rontek tak berizin di tiga titik.
Ilustrasi kemarau di ladang pertanian/JIBI-Bisnis Indonesia-Rachman
Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpangan) Kulonpogo mencatat 130,5 hektare lahan sawah di Kulonprogo gagal panen selama musim kemarau awal Agustus ini.
Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman, Disperpangan Kulonprogo Wahyu Widjayantoro mengatakan posko antisipasi kekeringan saat musim kemarau sudah dibuka di Disperpangan Kulonprogo sejak awal musim kemarau. Jawatannya menerima laporan dari tiap petugas di lapangan terkait permasalahan pertanian pada saat musim kemarau.
Berdasarkan laporannya, selama musim kemarau dari Mei sampai awal Agustus, total sudah ada 130,5 hektare lahan sawah yang mengalami gagal panen.
“Hampir di semua kecamatan, yang tidak ada kasus gagal panen hanya di Kecamatan Wates dan Galur. Kalau paling banyak di Kecamatan Pengasih,” ungkap Wahyu, Kamis (15/8/2019).
Di Kecamatan Pengasih total luasan lahan sawah yang mengalami gagal panen yaitu 34 hektare.
Ia mengatakan, selain masuk pada fase gagal panen, ada juga beberapa lahan yang mengalami masalah kekeringan dari tingkatan ringan, sedang, berat, baru paling parah yaitu gagal panen.
Menurutnya, gagal panen di 103,5 hektare terjadi karena kondisi alam yang sedang memasuki musim kemarau.
“Petani yang masih mengandalkan tadah hujan kehilangan sumber air. Kalau sudah gagal panen, itu tidak ada sumber air lagi,” kata dia.
Sementara, lahan yang bisa terselamatkan masih bisa diantisipasi dengan sumber air, baik dari sumur maupun irigasi menggunakan pompa.
Ia memperkirakan, di Agustus ini setidaknya luasan lahan yang mengalami gagal panen sudah tidak ada lagi, mengingat, petani di Kulonprogo sudah berganti tanaman. “Sudah pada ganti tanaman ke palawija,” ujar Wahyu.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Disperpangan Kulonprogo Tri Hidayatun mengatakan petani harus mengandalkan pompa untuk mencegah kekeringan. Menurut dia, bantuan pompa sudah bisa memenuhi kebutuhan petani di musim kemarau.
“Kami sudah berikan bantuan pompa itu dari 2013, itu cukup, sehingga saat diperlukan seperti untuk musim kemarau ini, petani siap dengan pompanya di lapangan,” ujar Tri.
Ia menjelaskan dari 2013 sampai 2018 sudah ada 184 pompa yang diberikan kepada petani di Kulonprogo. Bantuan pompa paling banyak diberikan di 2015 dengan jumlah 71 unit pompa. Tahun ini, ada tiga unit pompa yang diberikan pada petani di Kulonprogo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Petugas Satpol PP DIY menertibkan setidaknya ratusan buah sampah visual berupa spanduk, banner, dan rontek tak berizin di tiga titik.
Dua jemaah haji asal Sleman meninggal dunia pada musim haji 2026. Satu wafat saat pemberangkatan, satu lagi meninggal di Jeddah, Arab Saudi.
Harga telur ayam ras di Magetan anjlok. BGN mewajibkan SPPG membeli langsung dari peternak untuk menjaga harga tetap ekonomis.
Lebih dari 1.000 anak mengikuti Lomba Mewarnai Anak Indonesia Hebat di Sleman City Hall bersama Indomaret, SGM, dan Na Willa.
Perbaikan Jalan Randublatung-Cepu Blora resmi masuk tahap lelang. Pemprov Jateng menyiapkan anggaran Rp5,276 miliar pada 2026.
Hasto Kristiyanto berharap kedekatan Prabowo dan Megawati menjadi momentum membahas isu strategis serta memperkuat persatuan nasional.