Sidoarum Sleman Dikukuhkan Jadi Desa Tangguh Bencana

Ilustrasi. - Harian Jogja/Lugas Subarkah
21 Agustus 2019 00:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :


Harianjogja.com, SLEMAN-- Jumlah Desa Tangguh Bencana (Destana) di Kabupaten Sleman bertambah menjadi 51 Destana. Kali ini Desa Sidoarum, Kecamatan Godean dikukuhkan yang disertai dengan pengukuhan tim Destana Sidoarum sebanyak 30 orang di Lapangan Stadion Sidoarum, Selasa (20/8/2019).

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sleman, Henry Dharma Wijaya mengatakan pengukuhan tersebut ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan (SK) bagi seluruh anggota Tim Destana Sidoarum yang diserahkan secara langsung oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo.

Henry melaporkan bahwa pembentukan Destana merupakan upaya dalam penguatan kelembagaan masyarakat untuk mengurangi resiko bencana serta sebagai wujud kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.

“BPBD Kabupaten Sleman berusaha mengimplementasikan penguatan kelembagaan masyarakat tersebut dengan mensinergikan berbagai elemen yaitu Pemerintah, masyarakat dan pengusaha agar bisa terwujud masyarakat Sleman yang tanggap, tangkas dan tangguh dalam menghadapi bencana,” katanya.

Dengan dikukuhkannya Desa Sidoarum sebagai Destana, jumlah Destana di Kabupaten Sleman bertambah menjadi 51 Destana yang telah dibentuk dan dikukuhkan.

Selain pengukuhan Tim Destana, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan gladi lapangan oleh BPBD Kabupaten Sleman dengan skenario bencana angin kencang. Sebanyak 200 orang terlibat dalam pelaksanaan gladi lapang tersebut.

Bupati Sleman, Sri Purnomo mengatakan, kegiatan gladi lapangan merupakan salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Sleman untuk melakukan persiapan dalam menghadapi bencana alam khususnya di Desa sidoarum dengan potensi bencana angin kencang.

“Selain itu pelaksanaan gladi ini juga sebagai langkah untuk menyamakan persepsi dan mematangkan koordinasi antar instansi terkait penanganan bencana. Dalam menyikapi kejadian bencana, pada saat ini kita tidak lagi bersikap responsif namun sudah menuju preventif yaitu pengelolaan resiko bencana,” katanya.

Sri Purnomo menilai, peran aktif masyarakat, tim relawan, dan para pemangku kepentingan sangatlah penting dalam melakukan mitigasi bencana alam yang ada di Kabupaten Sleman. Maka dari itu, Sri Purnomo mengatakan Pemerintah Kabupaten Sleman terus berupaya untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan mitigasi bencana.

“Adanya dampak yang lebih besar dalam peristiwa bencana terjadi diantaranya karena kurangnya pengetahuan kita tentang langkah-langkah yang harus dilakukan ketika terjadi bencana," tutupnya.