Lewat Jogja Menyapa, FIB UGM Merayakan Kebhinekaan

Sejumlah mahasiswa sedang menampilkan tarian asal daerahnya, dalam malam Jogja Menyapa: Ngaruhke, Ngarahke-Tepung, Dunung, Srawung, di pelataran halaman Gedung Soegondo FIB UGM, Selasa (20/8/2019). - Harian Jogja/Uli Febriarni
21 Agustus 2019 19:07 WIB Uli Febriarni Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Kebhinekaan sudah selayaknya dirasakan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya diketahui dalam bentuk teori dan nilai semata.

Pandangan itu dikemukakan oleh Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), Prof.PM Laksono di sela kegiatan Jogja Menyapa: Ngaruhke, Ngarahke-Tepung, Dunung, Srawung, di pelataran halaman Gedung Soegondo FIB UGM, Selasa (20/8/2019).

Dalam kegiatan yang diselenggarakan sebagai salah satu cara merayakan perayaan Kemerdekaan Indonesia itu, Laksono menilai bahwa merasakan kemerdekaan dalam nuansa kebhinekaan merupakan kekhasan Indonesia.

"Bukan hanya dari text book tapi olah rasa, yang muda dan tua ketemu. Yang tadinya dari daerah berbeda-beda lalu bertemu, sambil menikmati makanan Jogja. Tapi intinya, meresapi kebhinnekaan mulai dari mata, mulut, telinga, gerak, inilah indonesia," tuturnya, Selasa malam.

Ketika ditanyai perihal kemampuan masyarakat Indonesia mengintegrasikan kebhinekaan dalam keseharian, Laksono menilai masyarakat sangat mampu melakukannya, hanya saja mereka butuh fasilitasi. Contohnya, tempat bisa mengekspresikan jiwa raganya menjadi bagian dari dunia berbhinneka.

"Jadi bukan perkara kemampuan, hanya saja situasi sekarang ini banyak hal yang menyebabkan yang mudah menjadi sulit," kata dia.

Lewat kegiatan yang terbuka bagi pengunjung itu, Departemen Antropologi FIB UGM ingin memberikan pengalaman kepada orang yang ada di Jogja, mengenai penerimaan, diterima bergaul dalam budaya yang berbhinneka. Melalui peristiwa budaya yang diisi dengan pertunjukan musik dan rangkaian kegiatan lain.

"Bhinneka kemudian menjadi laku tubuh, lewat maya, telinga, gerak. Bukan sekadar omongan, teori," tuturnya.

Panitia Kegiatan, Tiara Puspa Ramadanti menyatakan, sejumlah perwakilan mahasiswa yang berasal dari adat berbeda hadir dalam kegiatan itu. Kumpul menjadi satu dalam perbedaan dan suasana kebhinnekaan.

Mahasiswa Departemen Antropologi angkatan 2018 itu menambahkan, saat ini perpecahan begitu mudah terjadi, apalagi upaya memecah belah bangsa juga sudah dilakukan sejumlah pihak, lewat opini di media sosial.

"Acara ini mengusung perbedaan menjadi satu, untuk menghindari hal yang mengancam. Harapannya dari sini, seluruh bangsa Indonesia bersatu," ujarnya.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 18.30 WIB itu, menampilkan suguhan tari dan musik dari mahasiswa, dialog budaya dan ditutup dengan aksi penyanyi Didi Kempot 'The Godfather of Brokenheart'.