Festival Kue Bulan Jadi Ajang Pembauran

Ist. - Jogja Diabolo Squad Anggota Jogja Diabolo Squad (JD Squad) beraksi saat Tiong Ciu belum lama ini.
29 Agustus 2019 08:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Berbagai persiapan dilakukan jelang perayaan Hari Tiong Ciu, atau Festival Kue Bulan di halaman Kelenteng Poncowinatan, Jogja pada 15 bulan delapan kalender Imlek atau pada Jumat (13/9). 

Ketua 1 Jogja Chinees Arts & Culture Centre (JCACC), Jimmy Sutanto mengatakan selain akan ada roti bulan yang khas dan dapat dinikmati pengunjung. Juga akan ada hiburan tari-tarian dan musik.

“Kami mengundang masyarakat umum. Lintas umat juga, agar membaur semua warga agama jangan ada sekat,” kata Jimmy, Rabu (28/8).

Jimmy mengatakan perayaan ini dulunya hanya dirayakan oleh para ningrat tetapi seiring berjalannya waktu, menyebar ke grassroot. Jadi pada peristiwa alam saat perayaan itu bulan begitu indah. “Biasanya masyarakat sembahyang menyampaikan syukur,” ujarnya.

Sementara menurut  legenda, Jimmy menceritakan dahulu kala ada 10 Matahari. Kemudian muncul pahlawan yang memanah sembilan dari 10 Matahari itu. Matahari yang satu sisa dan terbit teratur untuk kesejahteraan rakyat di dunia.

Kemudian pahlawan itu terkenal dan menikah dengan putri mendirikan perguruan. Namun ada seorang murid etikanya tidak baik. Pada suatu hari mereka mengajak muridnya naik gunung di sana berdoa.

Sang pahlawan tersebut diberi aji-aji oleh dewa agar bisa panjang umur. Kemudian dibawa dan disimpan oleh istrinya. Pada suatu hari, pahlawan tersebut pergi berburu dan sang murid yang etikanya buruk itu mencoba mengambil.

Sang putri yang bernama Chang E tidak mau menyerahkan aji-aji tersebut dan menelannya. Kemudian terbang ke bulan menjadi Dewi. Kemudian munculah legenda dimana setiap festival dirayakan memandang bulan dan dipercaya muncul warna hitam, itulah Dewi Chang E.