Sudah Lulus, Alumni UAJY Diminta Tetap Jaga Integritas

Mahasiswi Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum UAJY, Elisabeth Dian Ningtyas. - ist/dok.Humas UAJY
31 Agustus 2019 00:17 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Wisudawan/wisudawati Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) diminta untuk selalu menjaga integritas dalam segala hal. Terlebih dalam situasi sekarang, korupsi, suap dan penyimpangan masih menjadi masalah utama bangsa.

Pesan tersebut disarikan dari pidato Rektor UAJY, Prof. Yoyong Arfiadi, saat pelaksanaan Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2018/2019, di Auditorium Kampus 2 Gedung Thomas Aquinas, Babarsari, Sabtu (31/8/2019).

“Saya harap anda sebagai cendekiawan, tidak terlibat secara langsung maupun tidak langsung dengan hal-hal tersebut. Karena pada banyak kasus, orang-orang terhormat melakukan hal-hal tidak terhormat," kata dia, di hadapan wisudawan.

Di tengah terpaan dan godaan untuk meraih sukses materi secara cepat, banyak orang jatuh karena tidak tahan godaan. Hal ini dapat dikarenakan godaan yang besar atau karena godaan dilakukan secara persistent (terus-menerus) sehingga bagi yang tidak kuat akan jatuh. Untuk itulah nilai-nilai keutamaan pribadi menjadi penting, imbuh Yoyong.

"Jangan merasa khawatir terhadap apa yang akan dihadapi di luar sana. Tapi saya yakin, sebagai lulusan UAJY anda dapat menghadapi segala tantangan yang ada," ungkapnya.

Kondisi lapangan tersebut, selanjutnya melatarbelakangi adanya persyaratan bagi mahasiswa UAJY, untuk mengikuti kegiatan-kegiatan soft-skill untuk melatih dan memperkaya jati diri. Tentunya, selain harus menyelesaikan sejumlah SKS tertentu sesuai dengan kurikulum di program studi masing-masing.

Yoyong tak memungkiri, persaingan di luar tidak mudah, untuk itu diperlukan inovasi dan sifat adaptif yang tinggi dari masing-masing pribadi. Tapi dengan kerja keras dan latihan-latihan yang telah diberikan, Yoyong yakin para wisudawan dapat mengatasinya.

Di kesempatan yang sama, Yoyong menyoroti isu lingkungan hidup. Ia melihat, pembangunan atas nama pertumbuhan ekonomi sering mempunyai efek bawaan yang memberi pengaruh buruk pada lingkungan yang kita miliki.

Mengutip sebuah tulisan, diketahui Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’ tentang perawatan 'rumah kita bersama'. Hal itu mengingatkan kita semua perihal pentingnya merawat lingkungan sebagai 'rumah kita' bersama.

"Kesadaran bahwa lingkungan yang kita warisi ini, harus diwariskan juga kepada generasi selanjutnya, dengan kondisi yang lebih baik, harus selalu kita jaga,” ungkapnya.

Seperti yang diketahui segenap pihak, aspek ancaman terhadap lingkungan bersumber dari beberapa hal. Antara lain pertambahan penduduk, urbanisasi, penggunaan energi yang berlebihan, penanganan sampah, pencemaran air, udara dan pencemaran tanah.

Maka, sebagai alumni UAJY hendaknya para lulusan dapat berkontribusi pada hal-hal yang dapat membuat lingkungan menjadi lebih baik.

Menyinggung penyelenggaraan wisuda, ia menyebutkan, pada Sabtu pagi ini, UAJY mewisuda 886 sarjana dengan rincian 836 sarjana strata satu dan 50 sarjana strata dua (magister). Jumlah wisudawan dengan predikat cumlaude sebanyak 144 orang.

Dengan demikian, sampai dengan wisuda kali ini UAJY telah meluluskan sebanyak 45.274 sarjana dengan rincian 42.975 sarjana strata satu dan 2.299 sarjana strata dua (magister).

Wisuda Periode IV TA. 2018/2019 dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama diselenggarakan pada 31 Agustus 2019 dengan wisudawan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Teknik, Fakultas Hukum dan Fakultas Teknobiologi. Sedangkan tahap kedua pada 7 September 2019 dengan wisudawan dari Fakultas Teknologi Industri, Fakultas Bisnis dan Ekonomika dan Program Pascasarjana.

Perwakilan wisudawan, Elisabeth Dian Ningtyas menyebutkan, sebuah kebanggaan baginya, dapat bergabung dalam civitas akademika UAJY.

Penanaman akan nilai-nilai jiwa yang unggul, inklusif dan humanis yang terintegrasi dalam keseharian kita, membuat mahasiswa UAJY tidak hanya menjadi pribadi yang berorientasi pada kualitas pengetahuan, tetapi juga kualitas diri.

Menurut lulusan Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum ini, setiap manusia di dunia ini memiliki zona waktu masing-masing dalam mencapai suatu titik kesuksesan dalam hidup.

"Tak jarang perbedaan zona waktu tersebut membuat sebagian dari kita termasuk saya, diliputi berbagai kecemasan yang berujung pada membandingkan diri sendiri dengan orang lain," tuturnya.

Padahal, dalam mengejar mimpi ataupun kesuksesan, yang terpenting bukanlah seberapa cepat atau lambat, tetapi konsisten. Selalu mencoba berjalan meskipun rintangan membentang dan kegagalan membayangi. Elsa percaya, sesuatu apapun bila dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dengan niat yang baik, pasti akan menghasilkan buah yang baik pula.