Gelar Doktor Honoris Causa Diberikan kepada HB X pada Tanggal Bersejarah

Pemberian gelar doktor honoris causa kepada Sri Sultan HB X di UNY, Kamis (5/9/2019). - Harian Jogja/Desi Suryanto
05 September 2019 21:27 WIB Uli Febriarni Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sri Sultan HB X menerima anugerah gelar kehormatan doktor honoris causa (Dr HC) di bidang manajemen pendidikan karakter berbasis budaya dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (5/9/2019). Anugerah diberikan kepada Gubernur DIY pada tanggal bersejarah.

Pada 5 September 74 tahun lalu, Kraton Ngayogyakartahadiningrat dan Pakualaman resmi bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Yang menentukan [tanggal] rektor [rektor UNY], bukan saya," ungkapnya seusai seremoni penganugerahan, di Auditorium UNY, Kamis.

Rektor UNY Sutrisna Wibawa mengatakan kampus yang dia pimpin ingin memaknai tanggal bersejarah bagi Jogja ketika menjadi bagian dari NKRI. UNY mengharapkan ada semangat ke-Indonesia-an untuk menjadikan kearifan lokal di masing-masing daerah di Indonesia, untuk menjadi sumber pendidikan karakter. "Kalau di sini [DIY] jelas kejogjaan, filosofi Jawa," katanya.

Menurut Sutrisna, UNY menilai Gubernur memiliki keistimewaan dalam mengembangkan pendidikan di DIY, yang tak lepas dari budaya. Sultan dianggap telah mempromosikan pendidikan karakter secara strategis. Sebab, dalam budaya terdapat pembelajaran tentang keberagaman, yang bisa menguatkan integrasi dan toleransi.

Salah satu pertimbangan penting bukti adanya konsentrasi Gubenur DIY pada pendidikan karakter, yaitu lahirnya Perda tentang Pendidikan Berbasis Budaya di DIY.

Pijakan dari Perda tersebut adalah budaya asli tanah Mataram. Budaya asli kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan akar budaya.

Pengukuhan Gubernur DIY sebagai doktor honoris causa di bidang manajemen pendidikan karakter berbasis budaya, telah semakin mengukuhkan mutu UNY sebagai universitas bertagline leading in character education. "Semoga UNY bisa mengawal pendidikan karakter di semua jenjang pendidikan," katanya.

Budi Pekerti

Sultan menjelaskan pendidikan karakter sejatinya merupakan daya upaya memajukan bertumbuhnya budi pekerti (karakter), pikiran (intelektual) dan tubuh subjek didik. Dalam satu kesatuan utuh, untuk memajukan kesempurnaan kehidupan dan penghidupannya selaras dengan dunianya.

"Pendidikan karakter hendaknya menjadikan seorang anak terbiasa untuk berperilaku baik. Sehingga ia juga terbiasa dan akan merasa bersalah kalau tidak melakukannya," kata dia.

Dengan demikian, kebiasaan baik yang menjadi insting, otomatis akan membuat seorang anak merasa bersalah bila tidak melakukan kebiasaan baik tersebut.

Penerapan pendidikan karakter membutuhkan sinergi antara tiga pusat pendidikan, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. "Pendidikan bukan hanya tugas sekolah, justru sekolah hanya memberi kerangka dan melengkapi pendidikan utama di keluarga," kata Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu.

Pengaplikasian dalam bentuk regulasi pendidikan karakter menjadi wewenang Pemerintah Pusat (tingkat satu). Pemerintah Daerah DIY, sudah memulai pendidikan karakter yang menjadi wewenang tingkat satu. Baik itu materi tambahan maupun di dalam aktivitas di luar sekolah ada tambahan.

Begitu pula pengertian berbasis budaya sudah diterapkan, hanya persoalannya seberapa jauh guru bisa mengaplikasikan dalam pemikirannya.

"Memang tidak mudah, semua harus di-brief untuk bisa diberikan pemahaman yang sama. Tapi sudah dimulai, dalam arti kami ingin mencoba, karena kami sudah punya keunggulan dari kondisi yang ada," katanya.

Mengulang kembali isi orasi ilmiahnya, di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, kata Sultan, sudah ada pendidikan yang populer dengan nama Pawiyatan. Selain itu ada pula pendidikan Taman Siswa, pendidikan versi barat dan versi Muhammadiyah.

Keunggulan-keunggulan yang ada, bisa jadi model ditambah dalam konteks potensi budaya lokal.

Istri Sri Sultan, GKR Hemas mengaku bersyukur atas anugerah gelar kehormatan yang diterima oleh suami tercintanya. "Karena ternyata dengan penghargaan itu, Beliau sebetulnya mengimplementasi apa yang sudah didapatkan, karena itu juga merupakan salah satu [poin] penilaian," ungkapnya.

Keluarga amat mendukung setiap hal yang dicetuskan Sri Sultan, khususnya untuk masalah pendidikan karakter.

"Untuk anak-anak ini [pendidikan karakter] kan juga menjadi patron bagi masyarakat. Saya kira ini tidak mudah sebetulnya, tidak hanya bagi Ngarso Dalem tapi juga bagi keluarga," kata Hemas.

Spesifik atas peranannya sebagai istri, menurut Hemas, Sultan selalu menempa dirinya dan keluarga, utamanya untuk menjaga kedisiplinan. "Menjaga sikap dan harus bertoleransi sesama, itu yang selalu beliau tekankan. Jadi itu pendidikan yang tidak terasa ia diberikan melalui keluarga," ungkapnya.