Pengembangan Geowisata Butuh Sinergi Masyarakat dan Akademisi

Kegiatan Seminar Nasional Kebumian ke-12: Peran Ilmu Kebumian dalam Pengembangan Geowisata, Geokonservasi, Geoheritage & Memeringati 35 Tahun Stasiun Lapangan Geologi Prof.Soeroso Notohadiprawiro, Bayat, Klaten, di Hotel Alana, Kamis (5/9/2019). - Harian Jogja/Uli Febriarni.
06 September 2019 08:17 WIB Uli Febriarni Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Sinergi antara masyarakat dan akademisi ilmu kebumian dinilai penting, dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, yang hidup di tengah kawasan dengan potensi geowisata, geokonservasi, geoheritage.

Hal itu dikemukakan oleh Ketua Umum Geoweek, Nugroho Imam Setiawan, saat memberi sambutan pembukaan kegiatan Seminar Nasional Kebumian ke-12: Peran Ilmu Kebumian dalam Pengembangan Geowisata, Geokonservasi, Geoheritage & Memeringati 35 Tahun Stasiun Lapangan Geologi Prof.Soeroso Notohadiprawiro, Bayat, Klaten, di Hotel Alana, Kamis (5/9/2019).

"Salah satunya dengan mewujudkan [Stasiun] Bayat sebagai sumber daya warisan geologi, geowisata dan geokonservasi," ucapnya, Kamis.

Panitia berharap, semoga seminar dan konferensi bisa menjadi ruang bersama untuk dialog, diskusi dan bahas fokus tema yang dibangun. Total, ada 429 abstrak yang masuk ke meja panitia dan setelah diseleksi, diputuskan sebanyak 102 makalah akan dipresentasikan dalam momen yang berlangsung hingga Jumat (6/9/2019).

Ketua Departemen Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof.Heru Hendrayana mengatakan, usia 35 tahun adalah sebuah usia yang sangat produktif, termasuk bagi Stasiun Bayat.

"Kami harap Stasiun Bayat terus berkembang dan terus menjadi pusat studi geologi terbaik di Indonesia," ucapnya.

Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof.Nizam mengungkapkan, tema yang diangkat dalam seminar, membuktikan bahwa Geologi bukan hanya soal eksplorasi. Melainkan juga konservasi dan mengandung upaya perhatian pada kegiatan ekonomi masyarakat sekitar, lewat geowisata, konservasi, pengembangan ilmu pengetahuan.

Dalam konteks kali ini, Stasiun Bayat sudah dikenal di Indonesia dan di internasional. Potensi itu luar biasa, sehingga saat ini tinggal diperlukan sinergi antara pariwisata, konservasi, pengetahuan ilmu dan pemahaman segenap pihak perihal planet bumi.

Dalam seminar tersebut, Guru Besar Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, Prof.Subagyo Pramumijoyo menjadi pembicara kunci, membawakan materi bertema yang sama dengan tema kegiatan.