Belum Enam Bulan Ditanam, Ribuan Pohon Cemara Udang Pelindung Bandara Baru Mati

Pengendara sepeda motor melintas di samping area sabuk hijau Yogyakarta International Airport yang ditanami cemara udang, Jumat (21/6/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
08 September 2019 21:07 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Setidaknya 2.000 cemara udang dan pule ditanam untuk sabuk hijau pelindung Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (YIA) dari tsunami, Mei 2019 lalu. Belum enam bulan, separuh cemara udang mati.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo mengatakan cemara udang mati karena kering. Air tawar di musim kemarau ini di sekitar Pantai Glagah sangat jarang. Sekarang  tinggal separuh cemara udang yang masih bertahan di pesisir selatan Kulonprogo itu.

“Pohon pule cuma beberapa yang mati. Sekitar 98 persennya masih terpelihara dengan baik,” ungkapnya, Minggu (8/9).

Separuh dari cemara udang itu mati karena ditanam di daerah yang debit airnya kurang. Waktu penanaman saat musim kemarau membuat petugas kesulitan menyediakan air tawar untuk perawatan pohon.

Meski demikian, Ariadi mengaku perawatan tetap dilakukan secara rutin oleh jajarannya. Setiap pekan dilakukan penyiraman pada tanaman tersebut. BPBD Kulonprogo bekerja sama dengan Kodim 0731 Pamungkas Kulonprogo dalam perawatannya.

Penanaman cemara udang dan pule dilakukan sebagai langkah mitigasi bencana tsunami. Selain cemara udang dan pule, beberapa pohon lainnya dianggap efektif menjadi sabuk hijau dan dinilai ampuh membendung gelombang air laut seperti pohon beringin, mahoni, ketapang, waru dan sukun.

Pemkab Kulonprogo juga menyiapkan lahan di selatan YIA sepanjang lima kilometer membentang dari Pantai Glagah sampai Pantai Congot untuk ditanami sabuk hijau. Dikarenakan adanya aktivitas tambak udang, sampai saat ini Pemkab masih berupaya pengosongan lahan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulonprogo Arif Prastowo mengaku instansinya kerap menerima laporan banyaknya pohon sabuk hijau yang mati. Ke depan DLH akan mengecek dan membuat kajian untuk menanggulangi pemeliharaan sabuk hijau.

Arif menilai pemeliharaan pada pohon sabuk hijau dinilai sulit karena rentan mati. “Masa pemeliharaan dari pohon yang sudah ditanam itu minimal dua tahun,” tuturnya.