Jelang Musim Tanam 1, Petani Diimbau Siapkan Lahan dan Benih

Tim dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul saat melakukan pemantauan lahan pertanian di Desa Jetis, Saptosari, Gunungkidul. - Ist/ Dok Dinas Pertanian Pangan Gunungkidul
11 September 2019 15:12 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Menjelang musim tanam pertama (MT 1), Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul mengimbau gabungan kelompok tani (gapoktan) untuk mempersiapkan lahan, benih dan alat pertanian. Berdasarkan perkiraan, MT 1 2019/2020 bakal dimulai pada awal November 2019.

Kepala DPP Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, menyatakan menjelang dimulainya musim tanam, percepatan pengolahan lahan dengan memanfaatkan alat mesin pertanian atau traktor yang sudah ada di masyarakat perlu segera dilakukan. "Hal ini penting agar saat hujan mulai turun maka lahan telah siap ditanami," ucapnya, Rabu (11/9/2019).

Selain persiapan lahan, petani wajib menyiapkan benih unggul baik secara mandiri maupun lewat bantuan pemerintah. Penebusan pupuk bersubsidi sesuai kuota yang ditetapkan juga wajib dilakukan agar distribusi pupuk bersubsidi lancar. "Agar penebusan pupuk tidak menumpuk di bulan yang bersamaan," katanya.

Menurut dia, persiapan gerakan tanam dan gerakan pengendalian hama perlu dilakukan untuk antisipasi penyakit tanaman apabila musim hujan telah tiba. Adapun benih yang diberikan kepada petani dalam rangka musim tanam 2019/2020 yakni menyalurkan benih padi gogo varietas Ciherang sejumlah 12,5 ton untuk 500 hektare. "Kami juga menyalurkan benih padi Inbrida sebanyak 25 ton untuk 1.000 hektare dan benih kompensasi puso kekeringan sebanyak 67,4 ton benih padi untuk 2.700 hektare lahan," ujarnya.

Ketua Gapoktan Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu, Sarwo Widodo, mengatakan jika musim tanam tepat waktu, tanaman padi bisa dipanen pada Desember 2019, di mana saat itu termasuk bulan paceklik padi karena baru memasuki masa tanam pertama 2019/2020. "Oleh karena itu, kami lakukan persiapan lahan menjelang pergantian musim," ujarnya.

Untuk meningkatkan nilai jual, Gapoktan Desa Ngeposari menggunakan pupuk organik dan mengurangi penyemprotan pestisida. "Agar komoditas sayur yang ditanam tak tercampur zat kimia," katanya.