Produksi Ikan Turun Drastis, Nelayan Gunungkidul Pilih Tangkap Benur
Hasil tangkapan ikan di Gunungkidul turun drastis hingga 47% pada 2025. Cuaca ekstrem dan peralihan nelayan ke benur jadi penyebab utama.
Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi (jongkok, dua dari kiri), melihat proses pemetikan lidah buaya di Desa Jeruklegi, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Kamis (19/9/2019)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Warga Dusun Jeruklegi, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, diberikan cara mengolah olahan lidah buaya agar tidak cepat basi. Inovasi ini ditemukan berkat penelitian yang dilakukan Lembaga ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selama beberapa tahun.
Pemilik kebun lidah buaya, Alan Effendi, mengatakan kebun lidah buaya yang dia kelola dikembangkan sejak 2014. Adapun hasilnya sudah diolah menjadi berbagai makanan seperti dodol dan kripik. Untuk minuman telah dikembangkan minuman kemasan dengan rasa lidah buaya.
Menurut dia, pengolahan khususnya makanan dan minuman sempat terkendala karena produk yang dihasilkan tidak mampu bertahan lama. Sebagai contoh, minuman kemasan lidah buaya hanya bertahan paling lama dua hari. Kondisi ini sangat merugikan karena barang harus laku kalau tidak ingin merugi.
Meski demikian, kata Alan, saat ini sudah ada solusi sehingga minuman yang diolah bisa awet dan tahan selama 30 hari. “Sekarang tidak perlu sehari habis karena minuman aloevera dapat bertahan selama 30 hari,” kata Alan kepada wartawan, Kamis (19/9/2019).
Dia menjelaskan pengembangan olahan lidah buaya agar tidak cepat basi tidak lepas dari penelitian yang dilakukan LIPI di Gunungkidul. Menurut dia, berkat penelitian yang dilakukan ada teknologi yang memungkinkan olahan bisa bertahan lebih lama. “Sekarang inovasi sudah diajarkan ke masyarakat dan mudah-mudahan bisa memberikan manfaat,” ungkapnya.
Untuk pemasaran produk hasil olahan ini sudah dipasarkan ke wilayah Gunungkidul dan Kota Jogja. “Kami bersyukur produk yang dihasilkan bisa diterima. Dengan teknologi agar olahan tidak cepat basi, maka memberikan harapan agar pangsa pasar bisa lebih luas lagi,” katanya.
Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi, yang meninjau lokasi budi daya lidah buaya di Jeruklegi menyatakan pengembangan tanaman ini sangat prospektif dan apabila dikelola dengan baik maka bisa menjadi kawasan agrowisata. “Kebun ini bisa menjadi daya tarik wisata meski basisnya bukan destinasi wisata alam,” katanya.
Immawan mengaku berterimakasih kepada LIPI karena membantu dalam upaya pengembangan UMKM di Gunungkidul, salah satunya produk olahan dari lidah buaya. Berkat penelitian yang dilakukan maka warga tidak khawatir karena olahan yang dihasilkan bisa tahan lebih lama. “Kalau lebih awet maka pemasaran akan optimal sehingga upaya meningkatkan kesejahteraan dapat diwujudkan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hasil tangkapan ikan di Gunungkidul turun drastis hingga 47% pada 2025. Cuaca ekstrem dan peralihan nelayan ke benur jadi penyebab utama.
Jadwal DAMRI Jogja ke YIA 2026 lengkap dengan tarif Rp80.000. Transportasi praktis, nyaman, dan bebas ribet menuju bandara.
Jadwal lengkap KA Bandara YIA 2026 dari Tugu Jogja ke bandara. Solusi cepat, bebas macet, dan tepat waktu untuk kejar pesawat.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 16 Mei 2026 dari Palur hingga Jogja. Tarif Rp8.000, berangkat pagi hingga malam.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.
Honda mencatat rugi pertama sejak IPO akibat EV. Kerugian capai Rp45,9 triliun, proyek Kanada ditunda, target EV diubah.