Desa Sendangsari Sleman Dikukuhkan Jadi Sentra Industri Parut

Kerajinan parut kelapa. - Antara Foto
20 September 2019 04:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Desa Sendangsari, Kecamatan Minggir dikukuhkan sebagai Sentra Industri Parut, Kamis (19/9/2019). Pengukuhan ditandani dengan penyerahan Surat Keputusan Bupati Sleman Nomor 55/Kep.KDH/A/2019 tentang Sentra Industri Kecil di Kabupaten Sleman tahap V kepada Ketua Pengrajin Parut Sedangsari.

Kepala Disperindag Kabupaten Sleman Tri Endah Yitnani mengatakan pengukuhan tersebut merupakan salah satu upaya Pemkab Sleman dalam mengoptimalkan potensi industri parut di Sendangsari dengan memberikan pendampingan dan pelatihan serta mempermudah akses permodalan dan pemasaran hasil produksi.

Ia menyebutkan bahwa dalam lima tahun kedepan, pengukuhan sentra industri kecil di Kabupaten Sleman diarahkan untuk menguatkan manajemen kelompok, meningkatkan proses pengolahan dan penjaminan mutu olahan pangan.

"Selain itu juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi olahan pangan, meningkatkan promosi dan pengembangan standarisasi, sertifikasi serta akses permodalan," kata Tri Endah, Kamis (19/9/201).

Ia menargetkan hingga tahun 2020 akan mengukuhkan 50 sentra industri di Kabupaten Sleman. Sejak dirintis 2016 lalu, sudah dikukuhkan sebanyak 25 Sentra Industri berbagai produk warga.

Ketua Sentra Industri Parut Sariyanto mengungkapkan bahwa kerajinan parut sudah ada di Desa Sendangsari sejak zaman nenek moyang. Sekarang terdapat 36 pengrajin parut di Desa Sedangsari.

Sentra kerajinan parut dapat ditemui di wilayah Dusun Dalangan, Sendangsari, Minggi, Sleman. Parut adalah alat kukur kelapa atau "kambil" yang terbuat dari kayu yang telah dipotong persegi dan diasah halus. Sebagai mata kukur digunakan potongan kawat halus yang dipotong dan ditanam di papan parut.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengatakan parut tradional kini masih kerap menjadi pilihan ibu-ibu dalam memarut kelapa untuk menghasilkan santan. selain harganya yang terjangkau, menggunakan parutan tradisional tersebut juga menjamin kesegaran bahan yang dihasilkan, karena hasil parutan tidak perlu diawetkan seperti halnya santan instan.

Pada kesempatan tersebut ia juga mengajak kepada warga Sleman untuk ikut memajukan pengrajin Sleman dengan ikut menggunakan produk buatan lokal.

Untuk memberikan daya saing dipasar ia pun menyarankan kepada para pengrajin untuk memberikan variasi produk parut sesuai dengan kebutuhan dan olahan.

“Parutnya dibuat bervariasi. seperti misal ada parutan khusus serundeng, khusus urap, dan lainya. Atau parutnya bisa menjadi telanan,” katanya.

Ia juga berpesan agar para pengrajin untuk memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan sosial media dalam startegi pemasarannya.

“Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, pelaku UMKM dapat mempromosikan dan menjajakan produknya secara online untuk menjaring lebih banyak pelanggan, misal memanfaatkan marketplace online,” tutupnya.