Desa Bugel Gelar Merti Desa Sebagai Ungkapan Rasa Syukur

Warga berebut gunungan dalam acara Merti Desa pada Kamis (19/9/2019) di Desa Bugel, Temon, Kulonprogo. - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
20 September 2019 01:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Desa Bugel gelar acara Merti Desa di Halaman Balai Desa Bugel, Kecamatan Panjatan pada Kamis (19/9/2019). Acara tersebut dianggap sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang diberikan pada warga di Desa Bugel.

Ketua Desa Budaya, Desa Bugel, Ngadi Sunaryo mengatakan pada hari itu warga dari 10 pedukuhan berkumpul menggelar kirab budaya. Setelahnya ada kenduri dan dilanjutkan berebut gunungan.

Ia mengatakan, acara tersebut rutin dilakukan saat bulan suro sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan pada masyarakat Desa Bugel.

"Harapannya setiap tahun rutin diadakan supaya hasil-hasil bumi dari petani atau nelayan itu bisa bagus dan banyak dan menyejahterakan masyarakat di Desa Bugel," ungkap Ngadi pada Kamis (19/9/2019).

Sebelum acara kirab, kenduri, dan berebut gunungan, warga menggelar upacara adat di Petilasan Kyai Daruno Daruni, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan pada Selasa (17/9/2019).

Upacara adat digelar untuk peringati jasa perjuangan Kyai Daruno Daruni, seorang pejuang pengawal Pangeran Diponegoro dari Kerajan Mataram yang mengadakan perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Setelah upacara adat di Petilasan Kyai Daruno Daruni, direncanakan akan dilanjut acara labuhan di Pantai Bugel, namun labuhan tidak jadi digelar dikarenakan kondisi gelombang yang tinggi.

Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Untung Waluyo mengatakan, Desa Bugel merupakan desa budaya, acara adat seperti itu harus tetap dilestarikan oleh generasi muda.

"Patut disyukuri masyarakat masih tetap mempertahankan gelar budaya. Desa Bugel ini juga merupakakan salah satu dari 15 desa budaya di Kulonprogo yang sudah ditetapkan langsung oleh Gubernur DIY," terang Untung pada Kamis.