Ratusan Santri di Kulonprogo Gelar Doa Agar Musibah dan Konflik di Indonesia Mereda

Prosesi doa bersama di sela-sela Haflah Khotmil Quran dan Haul Almaghfurlahum para pendiri Pondok Pesantren Al-Qur'an Wates di kompleks pondok tersebut, Dusun Kedung Pring, Desa Giripeni, Kecamatan Wates, Senin (23/9/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
24 September 2019 15:57 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Ratusan santri Pondok Pesantren Al-Quran Wates (Pesawat) Yayasan Abi Hasan Tholabi (YAHASBI), menggelar doa bersama untuk memohon kepada Tuhan agar musibah dan konflik yang melanda Indonesia segera usai.

Kegiatan ini dilakukan di sela-sela Haflah Khotmil Quran dan Haul Almaghfurlahum para pendiri Pondok Pesawat di kompleks pondok tersebut, Dusun Kedung Pring, Desa Giripeni, Kecamatan Wates, Senin (23/9/2019) malam. Selain santri, doa juga dipanjatkan oleh pengurus ponpes dan ratusan masyarakat umum yang hadir dalam kegiatan itu.

"Jadi memang sewaktu kita mengadakan semaan Al-Quran dari magrib sampai isya telah direncakan ada doa-doa untuk Indonesia," kata Pengasuh Pondok Pesawat, K.H Ahmad Suadi, Senin malam.

Ahmad mengatakan doa yang dipanjatkan di antaranya untuk keamanan dan ketentraman bangsa dan agar musibah yang menimpa Indonesia seperti kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) segera teratasi. Menurutnya musibah itu sangat menggangu masyarakat.

Khotmil Quran dan Haul Almaghfurlahum Pondok Pesawat merupakan agenda rutin tahunan. Khotmil Quran merupakan tasyakuran bagi para santri yang telah belajar di sini, dan mengkhatamkan bacaan Al-Qur'an baik itu secara membaca ataupun hafalan. Acara ini merupakan rangkaian kegiatan Haul pendiri ponpes tersebut yakni K.H Chasan Tholabi ke 29, K.H Chamim ke 69, dan K.H Amiruddin ke 82.

Ahmad menjelaskan rangkaian kegiatan ini diawali dengan festival Hadroh se DIY dan Jateng bagian selatan pada Sabtu (21/9/2019). Dilanjutkan pada Minggu (22/9/2019) dengan kegiatan membaca dan mendengarkan bacaan Al-Qur'an bagi alumni pondok sejak pagi sampai sore dan pelaksanaan sedekah sehat meliputi pengobatan massal, pijat urat, bekam, rukiah, dan katarak gratis.

"Di hari terakhir kegiatan kami adakan pengajian dan doa bersama untuk Indonesia, semoga dengan ini masalah yang tengah melanda tanah air dapat segera usai," ucapnya.

Salah satu santriwati asal Jayapura, Papua, Anditi Eka Yulianti, 14, mengaku lega akhirnya bisa mengkhatamkan Al-Qur'an. Kelegaan itu juga dirasakannya ketika larut dalam pembacaan doa bersama bagi Indonesia. Secara khusus, Anditi mendoakan keluarganya yang tinggal di Jayapura agar selalu diberi keselamatan dan dijauhkan dari marabahaya. "Saya selalu berdoa untuk keluarga yang di sana semoga selalu selamat dari musibah," ujarnya.

Perlu diketahui wilayah Jayapura sempat memanas pada Senin siang kemarin.  Kerusuhan antara mahasiswa dan aparat mengakibatkan satu prajurit TNI dan tiga mahasiswa tewas. Sedikitnya enam anggota brimob dan 20 mahasiswa luka-luka.