Investasi Mengalir Berkat Bandara

Suasana terminal keberangkatan dan kedatangan di Yogyakarta International Airport, Kecamatan Temon, Jumat (7/6/2019).-Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
26 September 2019 23:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Kehadiran Yogyakarta International Airport (YIA) membawa angin segar bagi iklim investasi di Kabupaten Kulonprogo. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (DPMPT) Kulonprogo, mencatat ada peningkatan nilai investasi secara siginifikan semenjak bandara mulai dibangun.

Berdasarkan data jawatan itu, akumulasi penanaman modal asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Kulonprogo pada 2018 menembus angka Rp6 triliun. Jumlah itu enam kali lipat lebih banyak dibandingkan rata-rata perolehan PMA dan PMDN pada tahun-tahun sebelumnya.

Pada 2014 misalnya, total PMA dan PMDN hanya Rp619 miliar. Setahun berselang, Rp1,04 trilun. Pada 2017 rata-rata realisasi penanaman modal di kabupaten paling barat di DIY ini berada di kisaran Rp1 triliun sampai Rp1,2 triliun.

"Trennya memang naik ya, setelah ada bandara banyak investor tertarik menanamkan modalnya ke sini, terutama investor yang bergerak di sektor perhotelan," kata Kepala DPMT Kulonprogo, Agung Kurniawan, Senin (23/9/2019).

Dia menjelaskan sejak 2016 hingga 2019 sudah ada 14 pengusaha hotel yang menginvestasikan modalnya di Kulonprogo. Beberapa di antaranya merupakan hotel bintang tiga dan empat.

Diperkirakan, tren positif ini akan berlanjut hingga beberapa tahun ke depan. Alasannya, ada rencana pembangunan Aerotropolis seluas 7.000 ha di sekitar YIA.

Pelbagai investor yang sudah terlebih dahulu mengetahui hal itu bahkan menyatakan minatnya untuk berinvestasi di sana.

Agung menyebut para investor ini datang dari pelbagai sektor usaha, mulai dari perhotelan, toko serba ada, apartemen, perumahan, pergudangan, SPBU, restoran, rest area dan toko oleh-oleh. "Mereka sudah datang untuk investasi dan beberapa sudah membebaskan lahan, ada juga yang telah membangun konstruksi. Beberapa baru penjajakan dan studi kelayakan," kata Agung.

DPMPT Kulonprogo memang gencar mempromosikan Aerotropolis kepada para penanam modal agar mau berinvestasi di sana. Kendati begitu investor tetap harus memenuhi syarat sesuai bidang usaha yang diizinkan berdasarkan Peraturan Daerah Kulonprogo no 1/2012 tentang RTRW Kabupaten Kulonprogo 2012-2032.

Dalam pasal 51 ayat 2 disebutkan peruntukan kawasan permukiman salah satunya adalah Kecamatan Temon yang merupakan calon Aerotropolis. Kemudian pada pasal 53 ayat 2, dijelaskan kawasan peruntukan perdagangan dan jasa salah satunya juga di Kecamatan Temon.

"Bidang usaha calon investor harus sesuai dengan peruntukan aerotopolis, yaitu sebagai kawasan pendukung bandara," terang Agung.

Kepala Dinas Perizinan dan Penanaman Modal (DPPM) DIY Arief Hidayat mengatakan iklim investasi di Kulonprogo semenjak adanya YIA memang tergolong cerah. Ada peningkatan nilai investasi dalam tiga tahun terakhir. Akan tetapi nilai itu mayoritas diperoleh dari Angkasa Pura 1 untuk kawasan Aerocity. Sedangkan di luar kawasan itu yakni Aerotropolis menurutnya belum terlihat karena masih dilakukan harmonisasi penyusunan RTRW.

Meski demikian lanjutnya sudah ada beberapa investor yang mengajukan minatnya untuk berinvestasi di sana. "Memang sejumlah pengembang baik asing maupun dalam negeri menyatakan minatnya untuk masuk ke situ [Aerotropolis]. Konsepnya nanti pengembangan kota bandara," ujar Arief saat dihubungi Harian Jogja, Kamis (26/9/2019).

Untuk meningkatkan minat investor agar mau menanamkan modalnya di daerah, Arief meminta Pemkab Kulonprogo untuk membikin regulasi yang memudahkan investor. Keberadaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan memiliki kompetensi bagus juga perlu diperhatikan. Ini bisa dilakukan dengan menggencarkan pembinaan dan pelatihan kepada masalah.

"Jangan lupa juga untuk menyiapkan kondisi sosial masyarakat terhadap adanya perubahan agar tidak terjadi sosial shock. Nah hal-hal itu yang menjadikan iklim investasi lebih baik karena perusahaan pasti akan tertarik untuk masuk," jelasnya.

Menurut Arief, kehadiran sejumlah megaproyek di wilayah DIY bisa membikin cerah iklim investasi. Syaratnya, pemerintah kabupaten atau kota harus jeli dalam melihat potensi untuk kemudian di kelola.

Arief mengatakan dalam peningkatan nilai investasi di kabupaten dan kota di DIY, Pemerintah Daerah DIY terjun langsung ke lapangan. Pihaknya tidak membiarkan pemkab atau pemkot bekerja sendiri. Dia menyebut ada tiga peran yang telah dilakukan Pemda, antara lain ikut mengharmoniskan RTRW daerah, menggiatkan potensi wilayah salah satunya UMKM hingga pengadaan infrastruktur seperti rencana pembangunan jalan tol yang melintasi wilayah DIY.

UMKM Kian Menggeliat, SDM Diperhatikan

Kehadiran mega proyek bandara juga berdampak pada meningkatnya minat warga Kulonprogo untuk mendirikan pelbagai jenis usaha kecil mikro menengah (UMKM). Salah satunya sebuah kedai kopi milik warga setempat yang diberinama Warung Kangen Ndeso Kopi NYIA. Kedai yang mulai beroperasi sejak awal 2019 ini hanya berjarak 100 meter dari pintu masuk bandara.

Dari nama yang disematkan, sudah terlihat, warung kopi ini memanfaatkan potensi adanya bandara. Untuk diketahui NYIA adalah nama awal bandara di Kulonprogo sebelum diganti menjadi YIA. NYIA sendiri merupakan singkatan dari New Yogyakarta International Airport.

Pengelola Warung Kangen Ndeso Kopi NYIA, Tini mengatakan meski baru buka di awal 2019, perkembangan warung yang jam operasionalnya mulai pukul 08.00-23.00 WIB ini dianggap cukup baik. Dalam sehari rata-rata kunjungan mencapai 50 orang. Jumlahnya akan meningkat tatkala memasuki akhir pekan. Pengunjung banyak berasal dari bandara seperti para pekerja proyek, pegawai, hingga pengguna jasa pesawat.

"Dulu yang datang banyaknya dari pekerja-pekerja bandara. Sekarang, mulai ada dari penumpang. Sebelum ke Jogja, ke sini dulu," ujarnya.

Warung Kangen Ndeso Kopi NYIA, menjual Kopi Menoreh, minuman berkafein yang dihasilkan dari biji kopi asli Kulonprogo. Untuk makanan pengunjung bisa menikmati aneka macam hidangan tradisional seperti sayur lodeh, tempe garit dan makanan lain. Makanan tersebut disajikan secara prasmanan.

Jika Warung Kangen Ndeso Kopi NYIA beroperasi di luar bandara, berbeda dengan salah satu produsen kopi lokal yang berproduksi di Temon ini. Namanya Kopi Starprog. Kopi yang diproduksi oleh Ika Miati Sukrisno, warga Kecamatan Temon itu telah dijual di bandara sejak awal operasional YIA pada Mei lalu.

Sampai sekarang, produk kopinya masih dipasarkan di Galeri UMKM Jogja, salah satu spot penjualan produk lokal yang berada di lantai dua gedung terminal keberangkatan YIA. "Cukup bagus perkembangannya, apalagi kini bandara sudah mulai rame," kata Ika.

Starprog hanyalah satu dari sejumlah produk lokal Kulonprogo yang mendapat kesempatan untuk dipasarkan di YIA. Selain produk ini, ada Cokelat Wondis, gula semut, cabe kemasan, batik, t-shirt Sugriwa Subali, souvenir gamelan, tenun samiya, dan produk fesyen geblek renteng.

Sebelum seluruh produk itu terlebih dahulu diseleksi oleh pemerintah Kabupaten Kulonprogo dan Pemda DIY. Tujuannya untuk memastikan kualitas produk agar layak dipasarkan di bandara. Setelah dipastikan lolos, pemilik produk diharuskan menjaga kualitas. Jika tidak, maka akan diganti produk lokal lainnya.

Kepala Dinas Koperasi UMKM Kulonprogo, Sri Harmintarti mengatakan sembilan produk yang saat ini masih dipasarkan di YIA akan dievaluasi ketika enam bulan pasca dipasarkan. Artinya jika produk masuk pada Mei, maka pada November bakal dilakukan evaluasi. "Apabila masih layak dipasarkan di bandara, maka dari 9 itu tetap dipertahankan, apabila tidak bisa bersaing, terpaksa harus diganti dengan UMKM lain," kata Hermin.

Saat ini pihaknya sedang menyeleksi 79 produk UMKM Kulonprogo calon pengisi tenant bandara. Sebelumny produk dipilih oleh tim terpadu berisikan instansi terkait, antara lain Dinas Pertanian dan Pangan dan Dinas Perdagangan, dan Dinas UMKM sendiri. Seleksi dilakukan secara bertahap di tiap kelompok usaha. "Saat ini kita lagi kurasi di sektor fashion. Tanggal 24 September nanti untuk kelompok boga," kata Harmin.

Selain UMKM, sisi SDM dengan adanya bandara turut mendapat perhatian. Pada Senin (16/9) lalu Angkasa Pura I menggelar pelatihan basic cargo dan dangerous goods pada 20 warga terdampak di lima desa yakni Desa Glagah, Sindutan, Jangkaran, Palihan, dan Kebonrejo. Setelahnya, warga diharap bisa meningkatkan pemahamannya dalam dunia kebandarudaraan agar bisa berperan dan bekerja di lingkungan YIA.

Pelaksana Tugas Sementara (PTS) General Manager Bandara YIA, Agus Pandu Purnama mengatakan dalam pelatihan tersebut pihaknya menggandeng PT Jasa Angkasa Service (JAS) untuk memberikan materi terkait basic cargo dan dangerous goods.

Dengan pelatihan tersebut warga terdampak bandara bisa memahami seluk beluk bisnis kebandarudaraan mulai dari terminal sampai kargo. "Sehingga ketika rekrutmen nanti mereka (peserta) punya daya saing yang tinggi. Kami juga utamakan warga sekitar dulu," ujar Pandu.

Pelatihan kebandarudaraan dalam proyek Angkasa Pura I itu sudah digelar kedua kalinya. Sebelumnya, pelatihan juga digelar dalam kelas basic towing tractor.

Soal peningkatan SDM, Pemkab Kulonprogo lewat Balai Latihan Kerja (BLK) juga gencar menggelar pelatihan khususnya tentang kebandarudaraan. Kepala UPT BLK Kulonprogo, Saryono mengatakan pelatihan kebandarudaraan menjadi pelatihan yang banyak diminati di BLK. Tercatat sampai Juni lalu, ada 673 pendaftar untuk ikuti pelatihan kebandarudaraan tahap pertama. Sementara untuk tahap kedua yang akan digelar akhir bulan ini, sudah ada sekitar 700 orang pendaftar.

Tahap pertama pelatihan kebandarudaraan sudah digelar kemarin Juni. Untuk tahap dua pada 29 Juli lalu. Pada tahap pertama, paket pelatihan yang sudah diadakan yaitu untuk ticketing and reservation, ground staff, cargo staff. Selain pramugari, di tahap kedua ini akan digelar juga pelatihan untuk Aviation Security (Avsec).

Ada 10 paket kebandarudaraan di tahun ini yang digelar BLK Kulonprogo yaitu satu paket untuk kelas pramugari, dua paket untuk Aviation Security (Avsec), tiga paket untuk cargo staff, dua paket ticketing dan reservation, dan dua paket untuk ground staff.

Sementara total pelatihan yang digelar BLK tahun ini sebanyak 92 paket. 53 paket sudah digelar sejak Februari lalu. Dibanding tahun lalu, jumlah paket pelatihan tahun ini bertambah. Tahun lalu BLK Kulonprogo hanya menggelar 90 paket pelatihan.