Pelaksanaan Selasa Wage Belum Dievaluasi

Kirab batik dalam Malioboro Selasa Wage, Selasa (1/10/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
03 Oktober 2019 10:37 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pelaksaan kegiatan Selasa Wage di kawasan Malioboro dinilai terus membaik. Kolaborasi antar SKPD sudah mulai terbentuk khususnya untuk meramaikan atraksi seni dan budaya di kawasan legendaris tersebut.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja Agus Arif Nugroho mengatakan hingga kini belum ada lagi evaluasi terkait pelaksanaan Selasa Wage di mana kendaraan bermotor tidak melintasi kawasan Malioboro. "Masyarakat sudah mulai memahami bagaimana harus menyikapi Selasa Wage. Kami masih belum melakukan evaluasi lagi," katanya kepada Harian Jogja, Rabu (2/10/2019).

Dalam beberapa kali pelaksanaan terhitung sejak 18 Juni lalu, katanya, hanya sedikit akses jalan yang dievaluasi. Terakhir kali, tidak ada perlintasan kendaraan bermotor untuk mengakses jalan Malioboro. Baik dari jalan Sosrowijayan, jalan Dagen maupun Jalan Perwakilan menuju ke Jalan Malioboro. Sebagai gantinya, ketiga jalan sirip tersebut diberlakukan dua arah. "Sementara kami terapkan seperti itu," katanya.

Adapun Kepala Dishub DIY Sigit Sapto Raharjo berharap Selasa Wage bisa menjadi icon baru bagi wisatawan yang akan ke Jogja. Merek akan menikmati suasana Malioboro yang berbeda seperti biasanya. "Tanpa kendaraan bermotor sambil menikmati atraksi kesenian dan kebudayaan yang ditampilkan," katanya.

Sigit berharap agar pelaku usaha di Malioboro bisa menangkap peluang usaha lain dengan penerapan semi pedestrian pada setiap Selasa Wage di kawasan Malioboro. "Pengusaha perlu menangkap animo masyarakat yang suka dengan kegiatan nongkrong. Biasanya pengunjung jalan-jalan terus haus. Maka pengusaha bisa buka kedai kopi atau makanan agar Malioboro tetap hidup sampai malam," katanya.

Pada Selasa Wage 1 Oktober lalu, misalnya, jalan Malioboro dipenuhi berbagai atraksi seni dan budaya sejak sore hingga malam hari. Pertunjukan tersebut diinisiasi tidak hanya oleh Dinas Pariwisata DIY tetapi juga oleh Dinas Kebudayaan. Mereka melakukan kolaborasi untuk saling meramaikan suasana Malioboro.

Dimulai dari depan Hotel Grand Inna, Pintu Masuk UPT Malioboro, Depan DPRD DIY, Pintu Gerbang Barat Kepatihan, Depan Gapura Pecinan Ketandan, Pasar Beringharjo, Plaza SO 1 Maret, Titik Nol, Eks Koni dan Hamzah Batik. Selain itu ada juga tiga kirab bregada yang akan melintasi Jalan Malioboro.

"Kami akan terus menghidupkan Malioboro sebagai panggung terpanjang dengan nuansa kebudayaan," kata Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY Aris Eko Nugroho.

DIY, kata Eko, memiliki setidaknya 56 desa budaya dengan karakteristiknya masing-masing. Disbud katanya siap mewadahi semua kelompok kebudayaan di berbagai venue seperti di Pintu Masuk Kepatihan Sisi Barat, depan Pasar Beringharjo hingga Monumen SO 1 Maret. "Setiap desa budaya memiliki keunggulan tersendiri. Kami berharap itu bisa ditampilkan pada Selasa Wage agar dikenal lebih luas. Tinggal berkoordinasi dengan Disbud," katanya.

Sementara Kepala Dispar DIY Singgih Raharjo mengatakan setiap pelaksanaan Selasa Wage akan selalu menampilkan hal yang baru. Hal ini dilakukan agar wisatawan yang berkunjung tidak bosan dan bisa merasakan hal berbeda. "Jadi setiap Selasa Wage pasti ada banyak kejutan-kejutan yang kami tawarkan dalam berbagai bentuk atraksi," kata Singgih di kantornya beberapa waktu lalu. (Abdul Hamid Razak)