Tanpa Pasar Malam, Panitia Sekaten Targetkan 35.000 Pengunjung

Ilustrasi Pasar Malam Sekaten - Harian Jogja/Desi Suryanto
06 Oktober 2019 20:17 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Perayaan Sekaten tahun ini digelar tanpa pasar malam. Meski demikian,  masyarakat diyakini tetap akan meramaikan agenda tradisi budaya ini. Beragam kegiatan seni dan kebudayaan masih akan menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat.

Penghageng II Nityobudoyo, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, mengatakan beragam kegiatan akan mengisi perayaan Sekaten, salah satunya Pameran Sekaten yang digelar mulai 1 hingga 9 November 2019 di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran dan Kagungan Dalem Sitihinggil Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

"Pameran Sekaten, termasuk di dalamnya pameran manuskrip digelar selama sembilan hari. Kami menargetkan 35.000 orang pengunjung selama pameran," kata GKR Bendara, Minggu (6/10/2019).

Pameran yang digelar di Bangsal Pagelaran menampilkan manuskrip milik Kraton, salah satunya Kanjeng Kyai Alquran. Manuskrip-manuskrip tersebut tidak akan dikeluarkan kecuali dalam pameran. Selain manuskrip, beberapa karya Sultan Hamengku Buwono I juga ikut ditampilkan, baik dari sisi biografi, peran, karya, objek, dan anugerah pahlawan untuk Sri Sultan Hamengku Buwono I.

"Sebelumnya belum kami pamerkan, dan akan dipamerkan lagi beberapa tahun ke depan. Koleksi yang akan dipamerkan dan muatan acara pameran akan memiliki sangkut pautnya dengan pendiri Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat," katanya.

Selain itu, ada pula kegiatan pendukung yang digelar saat pameran, seperti tarian karya Sri Sultan HB I hingga lomba karawitan tingkat SD hingga SMP se-DIY. Ada juga pertunjukan dan perlombaan seni bagi komunitas, sanggar, ataupun institusi seni utuk dapat tampil mengisi acara setiap hari di Bangsal Pagelaran. "Ini semua rangkaian sebelum pelaksanaan Garebek Mulud," katanya.

Prosesi Sekaten sendiri, kata GKR Bendara, diawali dengan prosesi Miyos Gangsa di mana Gamelan Sekati Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga dikeluarkan dari Kraton ke area Pagongan Masjid Gedhe pada 6 Mulud Tahun Jawa atau Minggu (3/11/2019).

Pada dini hari tanggal 12 Mulud atau Sabtu (9/11), Gamelan Sekati dikembalikan ke dalam Kraton melalui prosesi Kondur Gangsa. Selama berada di Pagongan Masjid Gedhe gamelan terus menerus ditabuh mulai sejak pagi hingga tengah malam. Rentang waktu pada saat gamelan dibunyikan inilah yang disebut dengan berlangsungnya tradisi Sekaten. “Pada Minggu [10/11/2019] digelar Garebeg Mulud. Seluruh rangkaian kegiatan ini dapat disaksikan oleh masyarakat umum," katanya.

Sebelumnya, saat jumpa pers perayaan Sekaten 2019 di Bale Raos, Kamis (3/10), Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro membenarkan jika rangkaian Hajad Dalem Sekaten tahun ini tidak diisi dengan kegiatan pasar malam. Menurutnya, hal itu merupakan keinginan dari Ngarso Dalem Sri Sultan HBX. Salah satu alasannya, kata Notonegoro, agar semangat Hajad Dalem Sekaten bisa dikembalikan ke era awal berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Raja Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan HB X kemudian meluruskan jika pasar malam bukan ditiadakan sama sekali. Pasar Malam tidak dihapus dari kegiatan sekaten, hanya saja pelaksanaannya digelar setiap dua tahun sekali. "Itu hasil kesepakatan dengan Pemkot Jogja," katanya.