Undang Abdul Somad, Sikap Ngotot Panitia Muslim United Mengherankan Kraton Jogja

GKR Condrokirono (kanan) menyerahkan bantuan untuk korban gempa Sulteng melalui Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana di Kraton Kilen, Kamis (18/10/2018). - Harian Jogja/Sunartono
09 Oktober 2019 23:57 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Panitia Kegiatan Muslim United tetap menggelar kegiatan di Masjid Gedhe Kauman. Tenda dan terpal di sekitar masjid sudah berdiri sejak beberapa hari lalu.

Pantauan Harianjogja.com, pelataran Masjid Gedhe sejak pintu masuk sisi Selatan dipenuhi oleh tenda kuncup berwarna putih. Beberapa pekerja juga sibuk mendirikan rangka tenda di depan masjid tersebut. Tampak baliho informasi kegiatan juga terpasang di depan masjid. Kegiatan Muslim United yang diinisiasi oleh Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) ini mengangkat tema “Sedulur Saklawase” terus berjalan.

Padahal terdapat dua surat dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang tidak mengizinkan kegiatan tersebut digelar di Masjid Gedhe Kauman, namun panitia tidak mengindahkan kedua surat tersebut. Kondisi tersebut pun mengundang pertanyaan dibenak masyarakat, termasuk Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono.

"Kenapa susah sekali untuk menghargai keputusan orang lain? Apakah ada unsur kesengajaan? Ada apa sebenernya?," tulis Condrokirono di akin twitternya, @gkrcondrokirono, Rabu (9/10/2019).

Saat dikonfirmasi Harianjogja.com, Condro mengatakan salah satu alasan penggunaan Masjid Gedhe Kauman dan juga Alun-alun Utara untuk kegiatan tersebut hanya menjaga keamanan dan kenyamanan warga di Jogja. Banyak masukan dari masyarakat yang berlawanan dengan kegiatan tersebut.

Surat permohonan izin dari panitia Muslim United No.002/PPT/MU/IX/2019 tertanggal 24 September 2019 untuk peminjaman Ndalem Pangulon Masjid Gedhe Keraton Ngayogyakarta dijawab dengan surat No.0336/KH.PP/Suro.IX/WAWU.1953.2019 yang intinya pihak Keraton tidak mengizinkan peminjaman area tersebut. "(Tapi) Ya begitu mas tetap mereka berjalan (meskipun tidak diizinkan)," kata Condro menjawab pertanyaan Harianjogja.com.

Harianjogja.com berupaya mengkonfirmasi terkait masalah tersebut kepada pihak panitia. Pada akhirnya, Nanang Syaifurozi selaku ketua panitia Muslim United 2019 mengirimkan jawaban terkait sejumlah pertanyaan yang dikirimkan oleh Harianjogja.com.

Nanang mengatakan, meski sempat mengalami halangan berupa penolakan izin yang dilayangkan oleh pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, namun Muslim United 2019 akan tetap dilaksanakan sesuai agenda yang telah dipersiapkan sebelumnya.

“Saya yakin ini adalah murni syiar agama dan tidak berbenturan dengan kepentingan apapun, jadi tidak ada alasan untuk menghalanginya. Apalagi tempatnya di masjid dan ini memang pengajian," katanya.

Perihal tuduhan yang macam-macam, panitia ingin membuktikan kalau (tuduhan itu) tidak benar. "Jadi kajian, walau rame orang, tapi tertib, bersih, tidak ada provokator, tidak ada intimidasi, tidak ada ujaran kebencian," jelas Nanang.

Nanang pun menegaskan kalau kegiatan Muslim United 2019 tidak didasari dari kepentingan kelompok manapun dan murni hanya untuk mempersatukan kembali umat muslim di Indonesia melalui kajian-kajian agama yang mengangkat tema tentang “Persatuan”.
Ditambah lagi, kegiatan ini diadakan di Masjid Gedhe Kauman yang merupakan simbol Kerajaan Mataram di Jogja yang memiliki nilai sejarah kalau di masa itu umat Islam juga bisa bersatu. Sehingga Jogja memiliki kontribusi cukup besar terhadap persatuan umat Muslim.

Indonesia, kata Nanang, saat ini tengah dilanda dengan pelbagai isu dan perbedaan pendapat yang dapat memecah belah persatuan dan perdamaian umat muslim. Terlebih lagi, penduduk Indonesia baru saja melewati tahun politik yang erat kaitannya dengan provokasi dan ujaran kebencian yang bisa menimbulkan perpecahan.

"Hal ini yang menjadi inisiatif kenapa Muslim United diselenggarakan, untuk mempersatukan kembali umat Muslim agar dapat saling berdamai dan menjauhkan diri dari perpecahan," katanya.

Apabila umat Islam yang mendominasi sebanyak 87% di Indonesia ini dapat bersatu, sambung dia, tentunya dapat menjadi potensi luar biasa yang dapat mengurangi angka disintegrasi secara drastis. Sejumlah ustadz dan dai seperti Ustadz Hanan Attaki, Ustadz Luthfi Basori, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Abdul Somad, Ustadz Bachtiar Nasir, Ustadz Salim A. Fillah, hingga Ustadz Felix Siauw dijadwalkan hadir.

"Selain dihadiri oleh lebih banyak ustadz hingga sekitar 40 ustadz, Muslim United tahun ini pun turut melibatkan hingga 1000 panitia dan volunteer yang didatangkan dari berbagai komunitas Muslim di Indonesia," katanya.