Perajin Serat Alam di Sentolo Masih Bergantung Pada Bahan Baku Luar Daerah

Tukiyo, 65, perajin serat alam di Dhisil, Salamrejo, Sentolo sedang menyusun agel untuk produksi tas. - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
10 Oktober 2019 09:37 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Keberadaan Sentra Kerajinan Serat Alam di Desa Salamrejo, Sentolo, Kulonprogo tak membuat serta-merta para pengrajin ini mudah mendapatkan bahan bakunya dari sekitaran Kulonprogo. Minimnya bahan baku di kabupaten ini membuat pemilik rumah produksi kerajinan serat alam di Sentolo harus mengirim dari luar daerah.

Sumilah, 57, pemilik usaha kerajinan Pandansari Craft cenderung lebih banyak menggunakan bahan baku dari luar Kulonprogo. Usahanya yang sudah berdiri sejak tahun 1996 ini dapat melayani pembuatan tas dengan berbagai bahan, mulai dari pandan, enceng gondok, agel, mendong, pelepah pisang, dan rafia. Dalam satu tas, ada beberapa bahan yang dikombinasikan.

Untuk bahan enceng gondok, ia mengambil dari Ambarawa. "Di Siliran ada, tapi kurang bagus. Cenderung lembek gitu, lebih bagus kalau Ambarawa," kata Sumilah pada Harianjogja.com, Rabu (9/10/2019) di sela-sela produksinya.

Sementara itu, untuk bahan baku pandan ia mengambil bahan setengah jadi berbentuk pilinan dari Tanjungharjo, Nanggulan, yang lebih dulu diambil dari Tasikmalaya, Jawa Barat. "Di sana [Tanjungharjo] ada yang memilin. Pandan di Trisik itu juga ada, tapi kurang bagus," tambahnya.

Begitu juga dengan bahan mendong yang ia ambil dari Minggir, Sleman disebabkan di Kulonprogo tidak ada yang bertani mendong. Sumilah hanya menggunakan bahan baku lokal Kulonprogo untuk pasokan agel dari Sentolo. Meski begitu, jika pesanan sedang banyak-banyaknya, ia pun harus mengambil agel dari Banyuwangi, Jawa Timur.

Senada dengan Sumilah, Tukiyo, pemilik rumah produksi serat alam Tukiyo Craft membenarkan jika rata-rata bahan baku kerajinan sulit didapatkan di Kulonprogo. "Bahan baku dari Tasikmalaya dan Banyuwangi, tapi dipilin Nanggulan," kata dia.

Meski begitu, pria 65 tahun ini juga sering menggunakan bahan baku dari Sentolo. "Di Sentolo ada agel tapi kualitasnya beda," kata dia. Ia menjelaskan perbedaan itu terletak pada ukuran daun agel dan kemampuan warga Sentolo memilin agel kering untuk dipilin menjadi tali.

"Kalau di Sentolo itu diplintir manual. Cuma bisa tipis," ujarnya sembari menunjukkan perbedaan pilinan agel dari Sentolo dan Tanjungharjo. Agel dari Tanjungharjo biasanya dipilin menggunakan mesin, bisa membuat pilinannya selebar kurang lebih tujuh milimeter. Sementara, agel dari Sentolo lebarnya hanya berukuran sepertiganya.

Tukiyo berharap pemerintah bisa memberikan pelatihan lanjutan bagi warga Salamrejo untuk dapat mempersiapkan bahan baku kerajinan. "Masih sedikit warga desa sini yang bikin plintiran ini. Soalnya pada enggak mampu, enggak pernah ngerjainnya," ujarnya.

Sehingga, jika dirinya dan pelaku usaha lain kebanjiran orderan, mereka bisa memberdayakan warga Salamrejo lain dengan adanya pasokan bahan baku dari sekitaran sentra kerajinan serat alam tersebut. Sebab, ia sering banyak orderan dari Bali yang memesan tas sebanyak 1.000 buah. Bahkan, setiap tiga bulan sekali dirinya juga mendapat pesanan dari Prancis dan Nigeria dengan rata-rata 600-1.000 pesanan.

Kepala Dinas Perdagangan Kulon Progo, Iffah Mufidati menjelaskan di Kulonprogo dulu sempat banyak dijumpai tanaman gebang sebagai bahan baku agel, namun sekarang sudah tidak ada lagi. "Kini hanya ada di wilayah Tuksono dan Salamrejo, itupun populasi sangat sedikit dan tidak bisa mencukupi kebutuhan kerajinan serat tumbuhan," kata dia.

Ia mengakui memang sudah cukup sulit bagi perajin untuk hanya mengandalkan bahan baku dari dalam Kulonprogo. "Kami sedang melakukan pendekatan dengan Dinas Pertanian supaya dilakukan kembali budidaya tanaman gebang," ujarnya.