Mahasiswa Jogja Beberkan Fakta Pelecehan Seksual di Kampus

Ilustrasi pelecehan seksual - JIBI
18 Oktober 2019 16:37 WIB Adit Bambang Setyawan (M128) Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Pelecehan dan kekerasan seksual terhadap perempuan masih kerap terjadi di Indonesia. Baik dalam dunia kerja, kampus, sekolah bahkan di rumah. Mahasiswa Jogja bercerita soal perilaku tak terpuji tersebut.

Wakil Ketua BEM Keluarga Mahasiswa UNY, Jodi Rahmanto Mengatakan angka kekerasan seksual pada perempuan di Indonesia cukup besar, bahkan di Jogja tidak jauh berbeda. Dia curiga di kampus juga ada hal-hal semcam itu.

“Kekerasan seksual pada anak dan perempuan di Indonesia angkanya cukup besar, di Jogja pun lumayan besar. Sehingga kami pikir tidak menutup kemungkinan di Kampus kita juga ada hal semacam itu [pelecehan seksual],” kata Jodi beberapa waktu lalu.

Staf Divisi Internal Media dan Kehumasan LSM Rifka Annisa, Niken Anggrek Wulan, mengtakan lembaganya menangani sekitar 300 kasus saban tahun. Pada Januari-Agustus 2019, telah ada 29 kasus perkosaan dan 25 kasus pelecehan seksual di DIY dan sekitarnya.

Selain itu banyak juga keresahan-keresahan yang pernah dialami mahasiswa yang melihat kejadian-kejadian yang menurut mereka tidak wajar, namun hanya didiamkan saja tidak ada yang mencoba untuk melaporkan hal tersebut.

Salah satu mahasiswa di perguruan tinggi negeri di Jogja Feni,20, mengaku pernah melihat seorang laki-laki dengan bangga memainkan alat vitalnya di depan gerbang kampusnya ketika ia ingin mencari makan bersama temannya.

Feni merasa tidak memiliki keberanian menegur laki-laki itu. Ia memilih lari dengan temannya, kemudian bertemu dengan seorang bapak-bapak di pojokan jalan dan melaporkan hal itu, tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Seolah-olah itu merupakan suatu hal yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan.

“Anehnya setelah lelaki itu selesai memainkan alat vitalnya laki-laki itu kemudian naik motor dan tanpa rasa malu lewat di depan kami dengan tersenyum,” kata Fani Senin, (14/10/2019) Malam.

“Pernah juga lapor ke penjaga tapi penjaga malah menganggap hal itu wajar, laki-laki malah dibiarkan pergi, jadi kegiatan seperti itu tidak hanya sekali,” ungkap dia.

Dengan kejadian tersebut Feni mengaku temannya mengalami trauma selama kurang lebih empat hari.

Dengan keresahan-keresahan semacam itu akhirnya BEM KM UNY membentuk sebuah wadah aspirasi untuk menuangkan atau melaporkan masalah-masalah pelecehan dan kekerasan seksual yang ada di sekitar kampus ke dalam program I Hear You.

Melalui "I Hear You" ini para mahasiswa bisa melaporkan dan akan dibantu penanganannya dalam mengatasi trauma maupun pelaporan sampai dengan tahap hukum. I Hear You baru terbentuk di September lalu.

“Sampai saat ini sudah ada lima pelapor yang masuk ke dalam aduan kami,” kata Raden Roro Rania, Ketua Kementrian Pemberdayaan Perempuan BEM KM UNY.

Sedangkan untuk penanganannya Roro mengaku baru dalam proses edukasi, edukasi dilakukan agar korban tidak mengalami trauma sehingga dapat menjalankan aktivitasnya seperti biasa.

Untuk menangani kasus-kasus yang sudah diadukan oleh mahasiswa, BEM KM UNY menggandeng berbagai lembaga seperti LBH UNY, birokrasi dan LSM.

Setelah program berjalam sejak September para mahasiswa kata dia memberi apresiasi adanya program semcam ini, karena di lingkungan kampus belum ada lembaga advokasi yang menangani masalah kekerasan seksual, selain itu mereka juga berharap apa yang sudah mereka adukan tidak hanya berhenti dalam laporan saja namun juga ada penanganan dan tindakan hukum untuk pelaku.

“Saya sangat apresiasi sekali dengan program ini, karena kampus belum ada lembaga advokasi yang menangani masalah seperti ini," ujar Feni.

“Harapan saya ketika ada laporan tidak hanya berhenti di situ, tapi juga ada penanganan dan tindakan hukumnya pada pelaku,” kata dia.

Wakil Ketua BEM KM UNY Jodi Rahmanto menegaskan dengan adanya aduan ini mahasiswa tidak takut lagi untuk lapor selain itu kekerasan dan pelecehan seksual di kampus diharapkan bisa berkurang.