Cegah Paham Radikal, Literasi Digital untuk Masyarakat Digalakkan

Kepala Diskominfo DIY, Rony Primanto Hari (kiri) memberikan penjelasan saat kegiatan Literasi Pencegahan Terorisme dan Radikalisme Diskominfo DIY di Kantor Kecamatan Depok, Selasa (21/10/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
22 Oktober 2019 17:47 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY menggelar kegiatan literasi pencegahan terorisme dan radikalisme pada setiap unsur masyarakat. Hal itu dilakukan untuk menangkal munculnya benih-benih terorisme yang bersumber dari dunia digital.

Kepala Diskominfo DIY, Rony Primanto Hari mengatakan era sekarang dunia digital sudah masuk di setiap lapisan masyarakat. "Lompatan teknologi itu harusnya diikuti dengan kemampuan literasi masyarakat," ujarnya dalam kegiatan Literasi Pencegahan Terorisme dan Radikalisme yang digelar di Kantor Kecamatan Depok, Selasa (22/10/2019).

Dengan kemajuan teknologi, masyarakat semakin dimudahkan. Akses informasi bisa dengan gampang didapatkan. Namun, dengan kemajuan itu, jangan sampai malah mengarah pada potensi hal yang negatif, salah satunya muncul pemahaman terorisme dan radikalisme melalui dunia digital. "Maka kami [Diskominfo DIY] berupaya meningkatkan literasi di masyarakat DIY agar bisa manfaatkan teknologi informasi dengan bijak," kata Rony.

Jangan sampai, kata dia, kemajuan teknologi informasi malah disalahgunakan, apalagi mengarah pada penyebaran paham-paham terorisme dan radikalisme. Menurut dia, apabila masyarakat bijak, kemajuan teknologi informasi ini bisa dimanfaatkan kepada peningkatan kesejahteraan. "Misalnya bisa dipakai untuk dagang online atau membuat video dengan konten yang positif," ucap Rony.

Kanit I Subdit I Keamanan Negara (Kamneg) Ditkrimum Polda DIY, Kompol Zaenal Supriatna mengatakan di era saat ini penyebaran paham terorisme dan radikalisme sudah berkembang dan mengarah pada dunia digital. "Di media sosial sekarang banyak konten-konten yang mengarah pada pemikiran terorisme dan radikalisme. Kalau tidak disaring akan menimbulkan masalah," ucap dia.

Dia mengatakan aksi terorisme muncul berawal dari pemikiran-pemikiran atau paham tertentu. Seperti, ia mencontohkan pada 2002, ada aksi terorisme bom Bali, berawal dari pemikiran atau sentimen anti-Barat.

Selain itu, dia mengimbau, ketika ada indikasi kelompok radikal yang bisa mengarah pada terorisme di tengah masyarakat. Masyarakat bisa lapor, baik ke tingkat RT/RW terlebih dahulu ataupun langsung ke kepolisian.

Salah satu perwakilan dari warganet yang juga sebagai Presiden Info Cegatan Jogja (ICJ), Yanto Sumantri mengatakan lantaran yang paling mengerti soal teknologi informasi terutama di media sosial adalah anak muda, maka mereka bisa berperan untuk menyaring beragam informasi terutama yang menjurus pada radikalisme. "Anak muda paling paham dalam urusan media sosial. Maka sejak dini dibentengi," ujarnya.