Hippi Fokus pada 3 Isu Utama

Pengurus DPD Hippi DIY berfoto bersama seusia pelantikan di Hotel Forriz Jogja, Jogja, Rabu (30/10)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
31 Oktober 2019 11:22 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DIY bertekad mengusung tiga isu utama untuk membangun ekonomi DIY. Selain fokus ke masalah UMKM, Hippi juga fokus pada pengembangan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata.

Ketua DPD DIY Sarbini mengatakan saat ini pihaknya fokus untuk merekrut 1.000 pengusaha muda untuk bergabung dengan Hippi. Masing masing pengusaha diambil dari lima wilayah di DIY. Targetnya, untuk pengusaha di Bantul 200 orang, Gunungkidul (200 orang), Kulonprogo (250 orang), Sleman (200 orang), dan Jogja sebanyak 150 orang. "DPD Hippi di DIY sangat menjunjung nilai keistimewaan DIY. Kami hadir dengan membawa ideologi baru untuk membangun sektor UMKM, ekonomi kreatif dan  pariwisata," katanya seusai pelantikan DPD Hippi DIY, Rabu (30/10) di Hotel Forriz Jogja.

Ia menjelaskan ketiga isu tersebut diangkat agar ketiga sektor tersebut bisa lebih hebat lagi. Karena itu, lanjut dia, para pengusaha yang direkrut dan bergabung dengan Hippi mayoritas merupakan pengusaha muda. "Dari 1.000 pengusaha yang bergabung dengan Hippi, 75 persen pengusaha muda dan 25 persen pengusaha senior," katanya.

 

Angkat UMKM

Guna menggenjot organisasi agar bisa bekerja secara maksimal, lanjut dia, maka masing-masing DPC akan diisi oleh 75% anggota dari pelaku bisnis murni dan 25% merupakan calon pebisnis atau pengusaha. "Kami akan secara bertahap mengangkat pelaku UMKM ke tingkat nasional hingga internasional agar pelaku usaha di DIY tidak hanya menjadi penonton," katanya.

Dijelaskan Sarbini, potensi UMKM di DIY banyak yang masih perlu diangkat. Di DIY misalnya Hippi akan fokus memberdayakan UMKM kuliner yang dinilai sebagai motor penggerak wilayah ini. Begitu juga sektor fashion batik yang sudah mejadi trendsetter. "Kriya di Jogja juga sudah menguasai pasar seperti di Jakarta dan Bali. Kuliner, Batik dan Kriya ini menjadi tiga kekuatan yang bisa mendinamisir bisnis di Jogja," katanya.

Hippi, lanjut dia, tidak bekerja untuk organisasi semata tetapi lebih pada pengembangan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM. "Kalau ekonomi pelaku UMKM bergerak maka Hippi secara organisasi juga akan maju. Di sini, peran masing masing DPC harus diperkuat karena mereka ujung tombaknya," kata Sarbini.

Wakil DPP Hippi Pusat Wawan Setiawan mengatakan Hippi merupakan organisasi yang ingin para pengusaha Indonesia menjadi tuan di negerinya sendiri. Misi ini dicamkan betul oleh Hippi agar pelaku usaha di Indonesia tidak hanya menjadi penonton. "Karenanya, kami meminta agar seluruh DPD hingga DPC selalu menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah," katanya.

Jalinan komunikasi tersebut harus dilakukan dengan Pemda agar tidak dimanfaatkan oleh orang lain. Begitu juga saat menyikapi perubahan zaman, Hippi akan terus mendorong lahirnya pengusaha muda yang konsen pada teknologi informasi. Apalagi di era globalisasi seperti saat ini, pelaku usaha lokal dan UMKM harus terus dan mampu mengimbanginya. Teknologi informasi harus mampu mengangkat derajat pelaku UMKM agar bisa go internasional," katanya.

Beruntung, lanjut dia, potensi UMKM di DIY sangat besar. Mengingat DIY memiliki banyak produk kerajinan dan generasi muda yang andal. Terutama untuk terlibat dalam pengembangan sektor pariwisata. "Ini menjadi poin tersendiri bagi Jogja," katanya.