Puncak Musim Hujan di Gunungkidul Diprediksi Februari 2020, Ini Tahapannya

Ilustrasi hujan. - JIBI/Harian Jogja
01 November 2019 07:57 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap potensi bencana berupa angin puting beliung di Gunungkidul akibat pergantian musim kemarau ke musim penghujan.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengungkapkan di awal-awal pancaroba ini kerap kali terjadi bencana berupa angin puting beliung. Hal itu terbukti dibeberapa wilayah seperti Kecamatan Semin dan Karangmojo.

"Yang perlu kita waspadai di awal-awal ini memang angin puting beliung. Walau intensitas tidak besar tapi bisa merobohkan rumah warga seperti di Semin dan Karangmojo," kata Edy kepada Harian Jogja pada Kamis (31/10/2019).

Ia mengungkapkan akhir-akhir ini sudah mulai memasuki pancaroba hingga tiba hujan mengguyur Gunungkidul. Sehingga, kewaspadaan yang dilakukan masyarakat mulai saat ini sudah mulai ditingkatkan.

Beberapa hal yang perlu dilakukan oleh masyarakat saat ini guna mengantipasinya tidak terjadi hal yang merugikan saat angin puting beliung menerjang, kata Edy, perlu dilakukan pemangkasan ranting-ranting pohon yang ada di sekeliling rumah.

"Kami meminta pepohonan di sekeliling rumah warga yang memiliki ranting yang bisa membahayakan agar bisa dipangkas. Kalau ada pohonnya sudah mau roboh langkah baiknya ditebang," ujarnya.

Selain itu, lanjut Edy, saat memasuki puncak hujan yang diprediksi hadir pada bulan Februari 2020, masyarakat perlu mengantispasi terjadinya longsor.  Terutama wilayah yang terletak di sebelah utara Kabupaten Gunungkidul.

"Potensi longsor juga perlu di waspadai saat puncak hujan di Februari terutama di wilayah Utara," kata dia.

Ia menjelaskan musim hujan diperkirakan hadir pada dasarian November sudah merata di wilayah Gunungkidul. "Pertengahan November sudah terjadi di beberapa titik, akhir November diperkirakan sudah merata menyeluruh," ujarnya.

Langkah awal yang dilakukan oleh BPBD yakni dengan membuat Desa Tangguh Bencana (Destana) di beberapa wilayah. Selain itu, pihaknya juga melakukan sosialisasi kepada warga melalui saluran media baik elektronik maupun cetak. Hal itu dilakukan guna menghimbau warga agar bisa mengantisipasinya.

"Destana itu kita bangun di beberapa titik-titik yang berpotensi rawan terjadi tanah longsor dan banjir," kata Eddy.